Wednesday, December 20, 2017


i.
what a craft. just how many times did you lie on paper that you have never felt like throwing things around or breaking things apart, huh, because apparently you don’t like to talk, do you, why should you, anyway, if making a damage to your knuckles or any cheap wooden door was enough?

ii.
it’s enough.
because talking is a vicious circle and everyone is seeing the difference, those who understand or in amazement, those who feel the same and have other ways to unfuck themselves. you’re all the same. all no thanks to her.

iii.
what a masterpiece. is it because she’s considered young, still, already privileged just like the rest of her merry band of the snob, all blind to the blatant disrespect they’ve got because that’s how they treat others anyway, so it’s a win-win situation for all of us. or not. i stopped caring the first twelve weeks and now, in my second new year, i’ll say this as easily as whenever the sun rises in the east;

the only thing i learned from you is how not to be you

iv.
i understand nobody’s perfect, but she's the worst person i’ve ever had the displeasure to work with.

v.
go on, revise this.



september 22 - october 23




i don’t talk about you a lot.

you;
 who came after him and made, make, us worry
a lot
because you weren’t us you

         you who speak it but don’t really get the rest
because you
are you;
   the one who understands and
         gets it
          that everything is not the same
           that he’s got the uninvited friend staying for a while and we

we should
 be more patient
       more less worrying everyone
        more keeping everything stay the same.

i’m sorry.

consider: when i say leave me alone—
 (in the future, as we close the five days gap a week on
   a sunny saturday morning)
don’t.
            stay,
             because it’s you;
                                        because that’s what you
have always been doing
         because that’s where you belong,
          because then he will join
           and we’ll be together again.

everything i do,
   in every prayer,
       whatever it is someone like me who learned it the hard way when he
said i favored you over him and
the times i did do,
 


                     it has, will, always been for you (two).





Saturday, December 16, 2017

12


on my way home today
   a girl got off at your school and
   her mom followed

then i thought it must be
the day you're supposed
 to receive your
       report card but it
       hasn't been like that for you,
              has it?

how many times, i wonder?

how many times did you
     dress nicely in
something other than the white shirt
and the grey slacks to
 go to school with
          different excitement
             different purpose
               because

today was supposed to be the day you
   received your report card but
    it's okay even if it hasn't been like that for a while







Thursday, October 5, 2017

APRIL DAN GALLANT (cerpen)




Jadi gue punya dua karakter yang sangat menarik; namanya Aprilianda (April/cewek) dan Gallant (cowok). April pernah muncul di sini: https://logikatanpacela.blogspot.co.id/2014/11/lol-cerpen-untitled.html

Di kisah utamanya, mereka berdua umurnya masih 19 tahun, sempat sekelas di kelas 12 SMA, tinggal di kompleks perumahan yang sama hanya berbeda jalan saja, dan ketika upacara kelulusan, April dengan santainya menyatakan perasaannya pada Gallant—yang tentunya adalah cowok paling populer karena dia ganteng dan ramah—membuat Gallant terbengong-bengong nggak nyantai karena, hei, sejak kapan teman sekelasnya yang merupakan salah satu cewek paling kalem, paling murah senyum tapi tidak pernah benar-benar ikutan menggila bareng, cewek yang tidak mau pergi ke sekolah bareng meskipun Gallant tidak keberatan untuk memboncenginya ini… suka padanya?

Dan lagi, apa-apaan si April?! Dengan santainya menambahkan, “Gue cuma mau ngasitau aja. Lo nggak usah jawab apa-apa, begini udah cukup.”

Nah.

Klise, tapi biasanya si cowok yang ngomong begitu. Bukan si cewek.

Tapi ya namanya juga Bamby.

MuahahahahHAHAHA.

Dalam rangka membangkitkan semangat menulis dengan Bahasa Indonesia dan #31HariMenulis, gue mau mencoba membuat baaanyaaaaak skenario untuk kedua orang ini! Semoga terwujud! Skenarionya tidak berkaitan satu sama lain! Semacam cerpen yang bahkan lebih pendek dari cerpen! Skenarionya ada yang gue ambil dari Tumblr ada juga produk sendiri~









1: HOGWARTS
Untuk Azka



            “Hi.”
            Cewek itu menoleh ke arah Gallant yang sudah siap dengan Cengiran Tampan Khasnya, dan ia balas tersenyum dengan manis; bibirnya yang tipis berwarna merah menyala dan kedua matanya yang bulat besar itu membentuk separo bulan sabit.
            “Hi,” katanya singkat, kemudian mencopot sejuntai kabel putih dari telinga kirinya.
            Gallant melebarkan pintu kompartemen dan bertanya, “Kosong, ya? Gue boleh duduk bareng lo?”
            “Silakan,” jawab cewek itu dengan santai, mengangguk pada bangku kosong di hadapannya. Gallant memerhatikan ada sebuah koper berukuran sedang di atas kepala cewek itu, berwarna sama merah dengan bibir tipisnya. Ia tidak tahu apa fungsi dari kabel putih yang cewek itu pakai di telinganya, dan apa benda yang tengah cewek itu pegang; sebuah perangkat muggle canggih, mungkin? Bentuknya kotak, tipis, pink.
            Thanks, kompartemen lain berisik banget.” Gallant memilih alasan paling masuk akal yang bisa dipikirkannya, dan ia menutup pintu dengan pelan.
            No problem,” kata cewek itu lagi, masih dengan santai, dan Gallant berpikir mungkin karena pembawaannya yang kelewat santai inilah yang membuat teman-temannya merasa perlu untuk mengerjai Gallant.
            Untungnya Gallant juga kurang kerjaan.
            “Anyway,” Gallant berdeham, “gue Gallant. Gryffindor tahun ketujuh.” Ia menyodorkan tangan kanannya dan cewek itu pun menyalaminya dengan mantap namun singkat. Tangannya halus dan wanginya mirip apel.
            “April, Ravenclaw. Tahun ketujuh juga.”
            “Masa sih kita seangkatan? Gue kayaknya belum pernah liat lo, deh!”
            “Maksud lo belum pernah lo cium kali?”
            Oh, shit.
          Gallant tertegun. Jantungnya berdegup tak keruan—kepalanya kosong dan tenggorokannya mengering. Biasanya… biasanya tidak pernah ada cewek yang mempermalukannya seperti ini; biasanya setelah Gallant menyatakan kalimat pamungkasnya tadi, seharusnya, cewek-cewek lain akan merasa perlu untuk menarik perhatian Gallant lebih jauh lagi dengan cara menyentuh lengannya atau tertawa keras-keras ketika Gallant melontarkan lelucon tak lucu sama sekali—karena mereka melihat sebuah kesempatan untuk bisa jadi lebih dekat dengan Muhammad Gallant, kapten tim Quidditch Gryffindor yang sangat populer, bukannya menyatakan kalimat pamungkas balasan yang justru mengalahkan upaya Gallant untuk membuka celah dan memastikan reputasinya sebagai Yang Tak Pernah Ditolak.
            “Ahh…” Gallant meringis, menggigit bibir bawahnya dan mengusap tengkuk lehernya; tidak tahu harus berbuat apa. “Kedengeran, ya?”
            April tertawa kecil, mengiyakan tanpa berkata apa-apa. Pipinya yang penuh itu membulat, membuatnya terlihat sangat manis. Ia tidak tampak gugup sama sekali, hanya masih menatap Gallant dengan santainya, seolah ia menantang Gallant untuk melanjutkan apa yang telah dimulainya dengan sangat buruk.
           “Sori banget,” Gallant berkata dengan suara sangat pelan, “gue sama temen-temen suka gabut kalo baru masuk.” Ia tidak berani mengangkat kepalanya. Ngomong-ngomong, April memakai sepasang sepatu muggle yang sangat keren. Pergelangan kakinya yang putih itu dibalut kaus kaki transparan. Gallant teringat akan mata pelajaran Muggle Studies dan ia pikir fashion muggle kadang sangat aneh.
            “Nggak apa-apa.”
            “Seriusan, sori banget, ya.”
            “Iya.”
            “Lo mau jajan sesuatu nggak? Gue beliin, ya?”
            “Nggak usah, gue bawa Oreo.”
            “Oreo?”
            April tersenyum dan Gallant menangkap kesan bahwa ia luar biasa senang dengan topik baru ini. Ia meletakkan benda muggle kotak tipis pink di bangku, dan mengaduk isi tas punggungnya yang berwarna sama merah dengan bibir tipisnya.
            “Oreo itu biskuit. Ada isian krimnya,” kata April sambil merobek bungkus biru Oreo. “Cobain deh, enak.” Ia mengambil satu keping biskuit bulat dengan isian krim berwarna ungu dan merobek lebih lebar agar Gallant bisa dengan mudah mencicipi.
            “Eh, iya.” Gallant terbelalak setelah satu gigitan. “Kok dingin gini, sih? Agak asem juga.”
          “Enak, kan?” April tersenyum. “Gue stock Oreo banyak kok kalo lo mau lagi, cukup sampai akhir tahun. Biaya pengiriman ke Hogwarts mahal banget soalnya.”
           “Lo dari Indonesia, ya?” Gallant bertanya, menjilati jempolnya. “Gue juga orang Indonesia, sih. Tapi mami papi udah dua puluh tahun di London dan udah jadi warga negara Inggris.”
            “Hmm,” April mengangguk, “pantes aksen lo native banget.”
          “He he iya.” Gallant nyengir, senang karena tidak ada rasa canggung yang tersisa di antara mereka. April benar-benar santai dan kalem, meskipun Gallant cukup yakin kesan pertama yang ia berikan jauh dari kata ‘menyenangkan’. Apabila posisi mereka ditukar dan ia adalah April, ia tidak akan mau meladeni seorang cowok kurang kerjaan yang menerima begitu saja tantangan teman-temannya untuk mencium cewek manis yang duduk di kompartemen 31.
            Gallant mau dicium Dementor saja rasanya!
“Erm, apa nama kampung halaman lo di Indonesia?”
            “Meikarta.”
            “Meikarta?”
            Tiba-tiba April mendengus. “Nggak, sori,” ia terkikik geli sendiri dan Gallant khawatir ia akan tersedak Oreo. Ada semburat pink di wajahnya dan setitik biskuit hitam Oreo di ujung bibir kanannya. “Sori. Gue dari Bali. Mungkin lo pernah denger?”
            Gallant memberi kode pada April dengan cara menyentuh ujung bibirnya sendiri dan April mengusapkan punggung tangannya ke bibirnya, mengangkat kedua alisnya yang digambar rapi.
           “Udah ilang,” jawab Gallant, “mami gue bilang mau ngajak liburan ke Bali kalo nilai-nilai O.W.L. gue minimal Acceptable.”
           “Emang nilai lo apa?”
           “Beberapa ada yang Poor, ada yang Acceptable.”
           Exceeds Expectations?”
           “Nggak ada bahahaha!”
        April berhenti mengunyah. Ia menelengkan kepalanya seolah berpikir keras, dan akhirnya bertanya dengan gaya Santainya, “Lo mau belajar bareng gue?”
            Gallant tergagap-gagap, “S-Serius?”
            “Serius. Siapa tau gue ketularan populer kalo kita keliatan bareng di perpustakaan.”
            “Pasti lah, lo kan manis.”
            April tertawa lebar. Bahunya terguncang dan ia bertepuk tangan girang. Deretan giginya putih dan rapi dan seperti dirinya secara keseluruhan; mungil.
Gallant dibuat melongo, tidak yakin dengan pemandangan luar biasa tidak biasa yang terjadi detik itu juga.
Cieeeee gue dibilang manis sama Pangeran Hogwarts.” April mendengus, terdengar sangat bangga dengan lelucon privatnya. “Kapan lagi, kan?”
Sebenarnya Gallant tidak masalah jika harus sering-sering mengingatkan April betapa manis dirinya, tapi mungkin lain waktu saja, lihat nanti bagaimana ke depannya.



END



Sunday, October 1, 2017

#31harimenulis: INTRO


upaya membangkitkan blog ini kembali is so real.
gue bingung pake bahasa apa *edan*

mungkin di beberapa postingan coba bahasa indonesia yang baik dan benar, ya? hitung-hitung latihan menulis novel yang seharusnya sudah ada dari dulu.

dulu.

ah.

baiklah ini intro.

selamat menikmati sajian #31harimenulis/#31dayswritingchallenge. jangan lupa berikan komentar! terima kasih.

Saturday, March 18, 2017

to whomever it may concern (5)




i'm sorry.
i've passed the textbook of grief that i read on the internet. yet i talk about you to my new friends the old version of you, the one who was supposed to glow like those skinny boys your age do, somewhere far away where i bought you a backpack that you never used, probably because the you right now is too young to be graced with such friend.

i'm sorry.
of all things that i want you to do, things that you should but now it's could, one of them is to see you standing tall and smug with what you have, which is your face and everything, as i, supposedly to, use you as a projection of how a boy your age should look like (well, in my mind, those skinny boys hurt me because you looked just like them but you don't have to be them).

i'm sorry.
as long as you're healthy now and forever, i'll let you read those fantasy books that you like so much, those fantasy books that make me question my own capability because it's going to be days, hundreds of them, before i can write one for you.

i'll let you wear ugly patterned bermuda shorts mom picks diligently for you.

i'll let you do whatever you want.

i'll let you barge in without knocking with your little brother to annoy me like you two used to so we can have a great off-key karaoke session like we three used to in that language we're familiar with therefore,

i'm sorry.





I (F/30) am my father's son

when he actually has two.                         My 9 years junior dislikes his middle name, cutely given after a French legend because our...