Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Wednesday, November 18, 2020

#6: Memborong Agatha Christie

Gila ya ini baru entri ke-6, dan sekarang udah November LMAOOOOOO. Gue ganti ambisi deh; gue akan usaha nulis 31 entri sampai batas 2020 ini berakhir yaitu 31 Desember. Doakan aku, ya!

 

Oke langsung aja nih woyyy Agatha Christie, Ratu Pembunuhan.

 

Gue kayaknya udah sering ngomongin Nenek satu ini, tapi sekedar mengingatkan; gue tahu Agatha Christie dari Mami dan Tante gue, kemudian mulai baca waktu SMA? Atau justru kuliah ya... Lupa banget tapi gue maniak sih LOL.

 

Check out my collection, sayangnya ada beberapa yang hilang. Ada juga yang Bahasa Inggris tapi gak kefoto karena beda rak buku.

 

Karakter favorit? Jelas Hercule Poirot. Pria Belgia bertubuh kecil, kepalanya bulat kayak telur, kumisnya super rapi. Necis. Pesolek. Super pintar. Sombong dan nggak rendah hati. Perfect!


So!! Awal November ada diskon gede Gramedia online, lo beli pake aplikasinya dan liat deh harga-harga buku Agatha Christie T___T



Akhirnya gue memutuskan untuk hanya melengkapi koleksi Hercule Poirot aja; dan ada 10 buku yang gue belom punya! Thanks Wiki for sorting out the titles based on Poirot's appearance hahaha.




Totalnya ada 12 buku karena gue beli juga yang Miss Marple dan Harley Quinn (gue udah punya, tapi kok ilang ye byeee).


So far, gue baru baca dua novel:


Parah banget typo-nya lol. Paling tipis, cuma 173 halaman. Ada satu cerita bukan pembunuhan, tapi misteri tentang boneka yang bisa pindah-pindah ruangan sendiri lmao and that one took the cake. Gile. Berasa banget aura 'seremnya', karena emang sampe akhir cerita tuh nggak ketahuan siapa yang mindah-mindahin itu boneka.


Ada satu line yang memorable banget gokil. Imagine reading this line in English sih:

Rambutnya yang lebat dan sudah beruban mengelilingi wajahnya dengan kusut dan mengeriting, hingga tampak seperti sarang burung yang pasti tidak disukai oleh burung yang punya harga tinggi.





Literally gue waktu seluruh teori sotoy gue tentang si pembunuh dipatahkan dalam drama ruang sidang oleh Opa Poirot:



Iya, selebay itu!


Karena berbahasa ibu, jadi diserapnya cepet banget. Gue nggak mau gegabah harus pelan-pelan biar awet sampe akhir tahun HAHA.


So happy! See you on my next entry!

 

 

 

 

 

 

Tuesday, April 17, 2018

REVIEW: Ernest Hemingway: The First Forty-Nine Stories


Halo!!!

Apa kabar? Kembali lagi di postingan mengenai buku. Kali ini gue akan review buku berbahasa Inggris berjudul "The First Forty-Nine Stories" oleh Ernest Hemingway.

Mungkin beberapa dari lo ada yang familiar dengan nama tersebut. Alias yang bikin "Old Man and the Sea", which I haven't read despite it being a novella. Nggak tahu kenapa gue belom sentuh karya legendaris itu. Kayaknya gue pernah baca beberapa halaman tapi nggak masuk ke otak jadi gue biarkan saja. Waktu itu zaman American Corner di perpustakaan fisipol UGM. Ah, masa-masa indah tempo dulu...

Anyway!!!!!! MUAHAHAHAHAHHAH SIAUL INI BUKU KUMPULAN SHORT STORIES. Literally super short ada yang cuma satu halaman, tapi yang bikin gue semangat untuk publish postingan ini adalah ENDING DARI TIAP-TIAP CERITA.

Wah, asli sih.

Ngeselin.

Like its title, ada 49 cerpen. Nah, sampai pagi ini gue baru baca 10, dan semuanya, literally SEMUANYA, endingnya................. wow.

Gue bukan kesel, tapi nggak tahu harus berbuat apa. Hati-hati spoiler ya, mari kita mulai:

1. Old Man at the Bridge
Hati gue yang mati ini dibuat sakit oleh ending-nya. Beneran deh. WTF to the max. Naratornya adalah seorang tentara yang menjaga perbatasan, dia sibuk manage pengungsi sekalian mau cabut juga karena musuh semakin mendekat. Lah, ada seorang old man yang kayaknya capek parah dan duduk lah dia di jembatan. Si old man berulang kali bilang 'gue nggak ngerti sama perang, gue cuma ngurus binatang kok, kenapa harus ada perang? kalau kucing sih nyantai, mereka bisa jaga diri mereka sendiri. tapi kalo binatang yang lain?' dan narator kita yang adalah tentara harus tetap menjalankan tugas dong. Tapi old man kayaknya nggak sanggup lagi jalan. DAN NARATOR NINGGALIN GITU AJA DENGAN KALIMAT PAMUNGKAS YANG BIKIN BAMBY TERKEJUT:

...and the fact that cats know how to look after themselves was all the good luck that old man would ever have.

Yakale gue nggak terkejut T___T

2. Up in Michigan
Gue terpukul aja sih sama yang ini. Gue pikir lelaki yang tokoh utama taksir adalah lelaki baik-baik, karena tokoh utama sangat mengelu-elukan sosoknya. Akan tetapi....................... Yha....................

3. On the Quai at Smyrna
Quai artinya dermaga. Smyrna adalah nama daerah di Yunani dulu, tapi kemudian dipindahkan ke Turki. Menurut Google sih begitchu. Cerita ini cuma satu lembar, literally. Kembali narator adalah seorang tentara yang melihat bagaimana pengungsi dengan bagasi masing-masing tiba di dermaga. Bagasi yang dimaksud, well, entah itu bayi-bayi yang meninggal atau hewan ternak yang terlalu berat jadi ya kaki-kaki ternak tersebut dipatahkan dan diceburkan begitu saja ke laut. Bye. Dalem.

4. The Capital of the World
Kurang lebih 12 halaman, cerpen paling panjang yang gue baca so far. Setting-nya di hotel di Madrid, Spanyol, tokoh utamanya kakak beradik dari desa yang kerja di hotel. Kakaknya ada dua, cewek, dan adiknya cowok, bertubuh kuat. Madrid, tentunya terkenal dengan tradisi matador vs banteng. Dijelaskan lah soal matador vs banteng itu big deal banget di zamannya, waktu cerita ini ditulis belum perang dunia 2 kalau ku tak salah. Kemudian........................ Endingnya.................... I think it's pretty fucked up. Tragedi bisa terjadi kapan saja, dan kalau lo mati, ya udah. Lo bisa apa? Kira-kira begitu feeling yang gue dapatkan setelah baca. Kacau.

5. A Very Short Story
ASTAGA YANG INI BAHAHAHAHAHHAHAHHA. Lagi, ini kacau. Sumpah. Cuma satu halaman, bahkan lebih pendek dari 'Smyrna', tapi yakaleeeeeeeeeee bye. Karakter utamanya cewek nggak mau menikah dengan pacarnya, maunya sama seorang berpangkat mayor. Eh ternyata nggak jadi juga menikah sama si mayor, dan pacarnya mati. LOL. Serves you right, tapi iba. Gimana, dong?

6. A Simple Enquiry
Kutak bisa pungkiri, gue agak tidak paham dengan yang satu ini bahahhaha. So, ada seorang mayor yang entah sekarat atau lagi sakit, asisten pribadi, dan tentara rendahan yang masih muda. Si mayor ngobrol sama tentara rendahan di ruangan terpisah dari si asisten pribadi. Lalu mayor agak teriak, "Hei asisten, lo bisa denger gue nggak dari luar?" tapi nggak ada jawaban. Nggak kedengeran, tampaknya. Tapi endingnya si mayor ngedumel sendiri, "Hah asisten itu, paling dia bo'ong dan bisa denger." Like, WTF BAHAHAHAHAHA.

7. A Canary for One
Intinya ada seorang ibu paruh baya dari Amrik ketemu pasangan paruh baya dari Amrik juga di kereta menuju Paris. Ibu paruh baya mengeluh putrinya naksir dan mau nikah sama orang Eropa gitu, nggak setuju doi. Dia seneng banget bisa satu kereta sama pasangan paruh baya dari Amrik yang langgeng. Nggak tahunya pasangan paruh baya itu pas sampai di Paris ya misah, pergi ke hotel yang berbeda-beda. Asli gue speechless sambil nyengir pasrah.

8. Today is Friday
Sepertinya menceritakan tentang prajurit di zaman Yesus yang ikutan memaku Yesus, dan mereka nyantai-nyantai di pub setelah itu.

9. Banal Story
This is more like a rambling from Hemingway, mostly about art and matador, two major entertainment back in the days. P.S. I don't get it bahahahahah tapi tetep berasa dalemn.

10. One Reader Writes
Seorang istri menulis surat ke dokter, khawatir karena suaminya tiba-tiba terinfeksi penyakit kelamin. Dah gitu ae.

In conclusion.
Ada tema tersendiri dari penulis jadul. I mean it. Lo pikir lo cuma baca cerita-cerita banal yang ordinary aja, yang seperti tidak ada meaning-nya, tapi BAM!!! Lo salah. Salah besar. Dalem-nya terasa. Begitu jleb. Nggak perlu ratusan lembar untuk berbelit-belit sampai ke titik tragedi. Azegh.

Oke segitu aja dulu untuk hari ini. Semoga terhibur!

Oiya buku ini dibeli di Big Bad Wolf 2018, dan gue ke sana naik kereta. Pengalaman yang menyenangkan!!





Tuesday, December 8, 2015

stephen king (lagi)

fuck.

setelah berbulan-bulan nggak update di sini, not from the lack of trying (ezra is still struggling with his zombies), tapi lebih karena ... rutinitas yang mematikan otak kiri? i don't think so. apa, ya? bukan juga karena nggak ada topik yang bisa diomongin, atau cerita untuk dikarang, tapi.

tapi.

apa, ya?

fuck (2).

ngomong-ngomong.

stephen king lagi, sodara-sodara.
bahkan buat gua yang sempet 'meragukan' untuk kembali kepada embah yang satu ini pun terbukti salah besar. SALAH. BESAR. apalagi elo yang mungkin bosen baca puja-puji gua buat doi bahahahahhahahahaha.

but seriously.

liat ini:
instagram web version sucks. gua gak bisa copas link picture lagi atau save picture as di safari/firefox so gua harus screen capture dulu bla bla bla



udah liat?
judulnya salem's lot. tentang sebuah kota kecil di amerika yang penduduknya cuma 1,000 sekian dan ada vampir mampir bikin kekacauan. belinya di kinokuniya PIM, dengan harga 128,000 dan sangat worth it dan gua selesai baca 565 halaman tersebut dalam waktu 3 hari.

cukup dengan angka, mari kita bicarakan cerita.

inget gue pernah review novel vampir berjudul the strain?
reviewnya bisa lo baca disini : http://logikatanpacela.blogspot.co.id/2014/11/are-you-are-you-coming-to-tree.html

satu hal yang bisa gua pastikan; kayaknya plot the strain agak ngikutin plot salem's lot. kayaknya.

kenapa?

1. jadi, vampir itu nggak bisa masuk ke dalem rumah lo kalo lo nggak mengizinkannya. aspek ini muncul di kedua buku tersebut. contoh gampangnya. ada vampir, temen lo ada sepupu lo, nanya, "bro, gua boleh masuk?" dan lo jawab, "oke masuk aja." berarti lo goodbye, lo bakal dimangsa dan jadi salah satu dari mereka. itu adalah kesamaan pertama yang gua dapatkan dari the strain, salem's lot, dan kalo lo masih inget atau pernah nonton filmnya; let me in, dimana semua vampir pasti bertanya, kurang lebihnya, "can i come in? it's cold. hello, it's me, adele," dan kalimat serupa lainnya. hati-hati.

2. vampir yang baru banget berubah jadi vampir bakalan mengincar kerabat terdekatnya buat dijadiin koloni alias doi bakal pulang ke rumah.

3. kesamaan terakhir yaitu wujud si empunya vampir yang sama-sama dikasih julukan the master. tapi ini agak kontradiktif. karena kalo di buku salem's lot, the master digambarkan berambut hitam berjas necis (my kind of devil bahahahhaaha), sementara di miniseri adaptasinya yang dibuat tahun 1979, the master persis mirip kayak the master-nya the strain yang ditulis pada 2012; botak, hidungnya deformed atau kacau, mulutnya lebar, taringnya tonggos keliatan bahhahahahah, dan berjubah. perlu foto nggak? serem banget coy yang salem's lot 1979 parah (akan gua jelasin sebentar lagi.)

intinya, originality is dead, but still, the fright i felt feel familiar. gua jadi penasaran sama dracula yang ditulis bram stoker, karena gua nggak pernah nonton filmnya. hm.

next, salem's lot yang diadaptasi jadi miniseri pada tahun 1979 silam. ya ampun 1979. lagi ngapain ya lo?

bersiaplah, ini trailernya, dan ini serem. seriusan serem banget. lo tau gua bukan penakut dan gua selalu menganggap remeh horor amerika yang isinya cuma benda berpindah tempat, kerasukan, atau rumah berhantu. tapi for god's sake, lo harus siap-siap nonton trailer salem's lot 1979 ini. just for your info, gua, bamby a.k.a bambang, nggak mau nonton trailer salem's lot 1979 untuk yang kedua atau ketiga kalinya. sekali aja udah cukup. ini cuma trailer. TRAILER. tapi serem. cepet klik dan tonton!



udah ditonton kan?

kalo lo mimpi buruk selama dua hari ke depan, boleh kontak gua via line, whatsapp atau fb atau komen. karena gua mimpi buruk udah dua hari ini. ketika tidur siang. luar biasa. gua pengen nonton full miniseri salem's lot 1979, tapi masih banyak pertimbangan BUAHAHAHHAHAHAHAHAHAHA.

ada satu fakta menarik soal buku ini, at least for me. salem's lot adalah novel kedua stephen king yang terbit pada tahun 1975, setelah carrie (novel perdana embah king, dan PLEASE PLEASE TONTON TRAILERNYA, FILM ADAPTASI TAHUN 1974 ITU SERIUS SEREM JUGA FUCK KTHXBYE), dan menurut gua emang keliatan masih kurang lugas si embah king dalam penulisan salem's lot.

humornya masih belom sarkas. agak-agak belom ngalir juga gaya penceritaannya. dalam beberapa scene gua nggak mampu dapet gambaran vivid! (it's an old humor hope you get it bahahahhaha) dari narasinya si embah. ah sotoy lo bam. mungkin. tapi gua udah baca IT (yes, finally!!!!! gua belom bikin reviewnya disini), the shining, needful things, misery, the dark half, skeleton key dan nightmares and dreamscapes (kumpulan cerpen) - it's safe to say gua mulai hapal dengan gaya penulisan embah king. so, itu aja kekurangan dari pengalaman seru membaca salem's lot selama tiga hari ini. selebihnya? gua sukses dibikin merinding, menahan napas, dan meringkuk di kasur sambil baca.

plis. anyone. let's talk about books LOL.

sampe ketemu lagi. semoga ketemu ezra selanjutnya. i miss (writing) him. the walking dead season 6 kok............. rada-rada............. ah. begitulah.





wow. desember.

telat lu, bam.



Thursday, February 5, 2015

review "the fall" dan "the night eternal"


alias lanjutannya review "the strain" http://logikatanpacela.blogspot.com/2014/11/are-you-are-you-coming-to-tree.html

dengan begitu, bamby udah selesai baca trilogi tersebut.

mari mulai dengan "the fall" yang ane baca bulan desember lalu.

nampang bentar yolo. jakarta kena virus juga ceritanya, maka bamby menyiapkan pedang perak. vampir strigoi takut perak. perak bisa menghabisi mereka. siapin aja yang banyak sob.

oke. "the fall".

flat paced. the usual important-mentor-shall-perish plot. masalah seru atau enggak hmmm agak susah dikategorikan, ada chapter yang seru tapi nggak banyak. endingnya mengecewakan bahahahaha.

"the fall" adalah buku yang paling tipis di antara ketiga trilogi ini. jujur gak usah dibaca, lo langsung lompat ke "the night eternal" juga nggak apa-apa nggak bakal ada kelewatan info penting bahahahah.

"the fall" bisa dibilang..... the overly toned down middle? nggak enak bener bacanya. macam the walking dead season 4 paruh pertama. emosi nontonnya.

anyway.

dan gua jadi mikir kayaknya gua memuji-muji "the strain" soalnya "the strain" adalah buku pertama, dimana chaos baru mulai terjadi; ketika virus vampir baru mulai menjangkiti, kita pembaca dikasih potongan-potongan sejarah dari virus vampir tersebut, penggambaran gimana penduduk manhattan dan sekitarnya kelimpungan, gimana tokoh-tokoh yang diceritakan dengan berbagai karakteristik menarik mereka menghadapi virus vampir itu. lebih seru dan bikin penasaran karena seolah-olah kita juga ikutan baru tahu ada virus vampir gitu. contoh gampangnya yha world war z, zombieland, the walking dead season 1, 80% film-film zombie pada umumnya soalnya film vampir yang bikin ngeri apaan twilight????






berhubung "the fall" mengecewakan, bamby pun menyiapkan diri untuk kecewa lagi dengan buku terakhir ini.

of course, i was wrong.

anggaplah "the night eternal" sebagai remedy dari ke-bye-an "the fall".

seru, bam, maksud lo? nggak, sob, nggak seru juga sebenernya. terus apa, bam? di "the night eternal" karakter utama kita yang namanya belom gua kasitau yaitu dr ephraim goodweather, doi masuk tahap pasrah. doi masih fight, tapi sebagai seorang 'hero' (perhatikan tanda kutip yang gua kasih barusan), karakter dr ephraim justru... nggak berkembang... doi justru... gimana ya. kalo gua pribadi bisa relate ke dia BUAHAHAHAHAHHA.

tentu, tetep ada love line yang dipaksakan. bah. malessssssssssss bangats asli.

apa lagi ya.

buat gua "the night eternal" emang penutup. the end. dan endingnya adil. kind of.

intinya, gua bangkrut soalnya "the night eternal" dibanderol 158.000 BAHAHAHHAHAHAH BYE. saran profesional nih ya, yang patut dibaca cuma "the strain". cuma buku pertama itu yang worth it dan bikin pengalaman membaca lo berkesan caelah.

begitulah.

until next book!





Thursday, December 4, 2014

ternyata

the strain (http://logikatanpacela.blogspot.com/2014/11/are-you-are-you-coming-to-tree.html) yang jauh lebih seru lebih berdarah-darah dan lebih ngilu nggak menimbulkan dampak kengerian signifikan sama sekali.

teror the shining-nya embah king masih nomor satu.

bahahahahahhaha.

nggak ada mimpi-mimpi aneh. nggak ada sekelebatan bayangan lewat di ujung mata. nggak ada benda bergerak. nope. nada. nothing. merci. lol.

begitulah.

tetep kudu nyari sekuelnya.

wow desember.

ayo ke blok m square satronin toko buku bekas!!!!11!

Saturday, November 29, 2014

are you, are you coming to the tree?


maksud ane. lu olang udah pada nonton the hunger games: mockingjay?

maksud ane. itu lagu 'the hanging tree' sukses bikin merinding, meskipun dengan rendah hati kukatakan gue biasa-biasa aja sama the hunger games trilogy (baca bukunya pun tidak).

tapi seriusan. lagu itu................................................

gue sering banget nonton film di bioskop selama 11 bulan terakhir di tahun 2014 ini, dan kali pertama gua merinding karena film bioskop itu adalah karena jeng jeng jeng dawn of the planet of the apes, di scene caesar balik ke rumah milik james franco tempat dia dibesarkan dulu, terus dia nonton rekaman video dirinya diajarin main catur sama james franco dan gue pun berkaca-kaca ketika ngetik ini baahahahahhahahahah.

dan kali kedua, yha ini. the hanging tree scene. nggak sanggup sodara-sodara. selain karena liriknya yang ngeri, juga karena aransemen bombastisnya waktu scene peledakan bendungan. ah. mantap.

tapi bamby tetep yah biasa-biasa aja sama the hunger games lol.

anyway.





lo liat itu buku? lo liat bae-bae, dan plis, plis kalo emang lagi bosen ingin ditantang oleh bahasa inggris dan horor dan vampir virus dan cerita yang super seru, plis, tolong, segera baca the strain yang ditulis oleh guillermo del toro (YANG BIKIN PAN'S LABYRINTH ALIAS PELEM YANG TELAH MENGUBAH DIRIKU LOL) dan chuck hogan. plis.

gue beli di periplus lotte shopping avenue kuningan, harga 126 ribu, 585 halaman gue gempur dalam 2,5 hari....................................... dan memang the strain udah jadi original series di FX, cuman setau gue belom ditayangin di indonesah.

trilogi, seperti biasa, dan sejauh ini gue belom liat lanjutannya dijual dimana-mana. ane ga sanggup lagi kudu baca sekuelnya secepat mungkin. karena ane pun jadi yakin bisa terinspirasi buat ezra zombi bahahahahhahahaha.

gue kan baru melewati fase menggemari stephen king, dan gue bisa bilang kalo style mbah king dan duet om del toro-hogan boleh lah dikomparasi dengan adil. semuanya vivid! (candaan a la misery yang gue nggak yakin lo paham atawa kaga). pokoknya daya terornya 'dapet'. gue tinggal menunggu waktu ketika ada sekelebatan-sekelebatan lewat di ujung peripheral vision gue, dan gue yang macho ini bakalan stres sendiri agak-agak teriak dan paranoid dan akhirnya nyengir karena hey, itu artinya ada sebuah buku yang sukses bikin gue yang macho ini........................................

so.

plis.

p.s. gue baru tau di blok m square itu sarangnya buku-buku bekas? siap disatroni. yang mau ikut persenjatai diri sendiri ye kita naik busway lol.






Friday, October 24, 2014

review buku: 'the shining' oleh stephen king

hai, pakabar?

kali ini buku yang bakal gua review adalah ‘the shining’ oleh pakde stephen king.

gua pernah review ‘misery’ http://logikatanpacela.blogspot.com/2014/02/review-buku-misery-by-stephen-f-king.html
dan wow terakhir kalinya gua review buku di blog ini bulan agustus kemarin? bah, bam, yang bener aja! hahahahhaha.

oke oke.

dan ‘the shining’ masuk ke dalam daftar 100 books you must read before you die from the 1700s, 1800s, 1900s, to 2000s, gua baca di toko buku germadai di PIM kan, dan gua juga beli ‘the shining’ di situ, satu minggu yang lalu. tentu saja fakta itu bikin gua makin semangat buat baca kan ye.

‘the shining’ harganya 112 ribu, tebalnya 659 halaman (kalo PIM kejauhan di germadai ciputra cibubur juga ada saya sudah riset).
dari instagram gua loh, cekidot http://instagram.com/ybamb


nah.

dengan berat hati gua harus bilang kalo gua masih lebih suka ‘misery’ yang nggak masuk dalam daftar 100 books you must read before you die ketimbang ‘the shining’.

kenapa?

1) adrenalin nggak terpacu sob.
nggak kayak ‘misery’ yang bikin merinding dan super ngilu itu. padahal emang ada lumayan banyak adegan berdarah-darah yang VIVID! dan mayan sadis. tapi tetep aja nggak se-sadis ‘misery’.

2) nggak serem ah.
padahal ada hantunya, penampakan, kontak berbahaya dengan hantu tersebut, hewan-hewan yang dibentuk dari semak yang bisa hidup dan buas, modus mengerikan, de el el. tapi hantu bule emang nggak pernah serem.................

3) ya intinya mungkin bamby ekspektasinya berlebihan ye kan, soalnya gua udah baca ‘misery’ dan dua buku kumpulan cerpen pakde king (yang emang nggak semua cerpennya cihuy, gue emang ngefans tapi gue nggak serta merta dengan butanya suka semua buku pakde king LOL). plus, film ‘the shining’ yang dibintangi jack nicholson dan disutradarai stanley kubrick ngehits banget dan juga disebut-sebut sebagai salah satu film horor terhoror sepanjang masa (gua belom nonton sih cuma liat trailernya). apaan. kalo bukunya kaga serem berarti filmnya juga nggak cihuy (biasanya kan memang begitu adanya kalo ada buku yang diangkat jadi film).

tapi.
bukan berarti bamby nggak geleng-geleng kepala saking hebatnya pakde king, bukan.

gua tetep dibikin geleng-geleng kepala kok, takjub, bahasa gampangnya. latar belakang tiap karakter yaitu bapake, ibune, anak kecil cowok dan koki kulit hitam beneran bisa bikin lo simpati dan ‘ngerti’ oh pantesan si bapak pemabok, oh pantesan si ibu suka jeles, oh anu oh itu, gitchu sodara-sodara. nggak setengah-setengah lah gimana masa lalu dan latar belakang karakter dibentuk untuk kemudian disambungkan dengan kejadian mengerikan di hotel overlook (setting utama novel ini).

maksud gua nggak mungkin kalo lo cuman penulis tete bisa mengolah cerita sampe sebegitunya.

maksud gua REDRUM.

bahahhahahahahah.

ah bete dech review buku kalo nggak atau belum atau nggak ada yang tertarik buat baca buku tersebut.
di jakarta ada klub buku nggak sih? buat diskusi dan menyampaikan perspektif kitorang tentang suatu buku? atau klub buku online dah.
lol.

oke segitu aja.

thanks for tuning in!




Monday, August 11, 2014

boring books review

sama. gua juga kaget. ternyata gua, self-proclaimed high maintenance reader of the century, bisa toh nggak doyan sama buku.

makanya judulnya boring books review. kalo selama ini gue review buku-buku cihuy yang bikin gue entah merinding entah bengong, well. here you go.


  • BUMI by tere liye (mirip mas rizal btw orangnya, fanmeet gitu kebetulan di gramedia amplaz yogyakarta, baek om-nya, akhirnya owe coba beli satu novelnya).
  • 400-an halaman.
  • bahasa indonesia. 75.000.
  • EDIT: papi ane lagi2 baca buku-yang-tak-kulirik sampe tamat bahahahah (november 2014).

BUMI mau dibikin trilogi, atau tetralogi gitu. ini buku pertamanya. plotnya seperti ini: cewek SMA super biasa-biasa aja nggak cakep2 amat, anak tunggal, suka kucing dan pelajaran bahasa, dari orok bisa menghilang dengan cara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan suka godain orang tuanya kalo lagi iseng muncul-hilang seenaknya.

awalnya gitu doang, tapi lama-lama mulai bermunculan tokoh-tokoh gaib dan temennya dia yang bisa mengendalikan listrik. semacam aang; the last airbender gitu lah ya, kekuatan supernaturalnya. premis-nya juga mirip kayak novel young adult fantasi pada umumnya; ada mentor yang tak lain adalah guru yang paling ditakuti satu sekolah, rahasia-rahasia, pergi ke dunia "lain" pake portal, belajar berkelahi, ternyata tokoh utama kita yaaaaa titisan-terakhir-dari-ras-akjsfkaal-yang-diungsikan-ke-bumi.

superman kal-el dong, bam?

ya bukan. neng-nya namanya raib. see the connection with her power? yeah.

kenapa bamby nggak selesai baca BUMI?
entahlah. bahahahahaahha. setelah raib dan dua temannya berantem versus 'makhluk halus' dari dunia lain dan diselamatkan sama mentor dan (kayaknya) cabs ke dunia lain itu gue langsung hilang semangat buat baca-nya. padahal setting-nya jakarta loh, seragam putih abu-abu, makan tempe dan siomay segala tokoh-tokohnya, tapi. yah.

ditulis pake first person pov. setahun belakangan gue emang mencoba untuk menoleransi (mentoleransi? loloreransi?) pov yang satu ini. om tere liye mantaps. seperti penulis senior dari penerbit Gramedia Pustaka Utama pada umumnya, om tere liye tata bahasanya rapi dan cocok dengan selera high maintenance bamby terkait novel lokal.

gaya berceritanya juga beda. detil-detil yang tampaknya nggak penting dan seolah-olah diulang-ulang terus oleh si om, gue yakin bakal berperan besar untuk jalan cerita ke depannya. gue yakin masalah mesin cuci rusak yang bikin mamanya raib bete ada maknanya di halaman-halaman belakang, cuma gue keburu selam (males, oke?) buat melanjutkan baca, yah, semua itu hanya menjadi tebakan bamby semata.

gue beli BUMI soalnya gue butuh gambaran kayak gimana sih jagad pernovelan lokal yang ditujukan buat pembaca young adult dan diterbitkan oleh penerbit gede kayak GPU? gituh.





  • DOOMED by chuck palahniuk (penulis FIGHT CLUB, buku super kontemporer yang gua baca waktu gue masih orok english masih cupu mamvus yang filmnya dibintangi brad pitt + edward norton itu).
  • 400-an halaman.
  • english.
  • beli di periplus. 105.000.

sejujurnya gua males baca DOOMED karena kemakan omongan review-review tidak mengenakkan yang ada di goodreads. fck. kayaknya gue gak bakal mengunjungi website itu lagi. siangke bangats. spoiler gitu cuih.

nah.
DOOMED ditulis dalam first pov lagi, so far. gue beneran baru baca sampe halaman 25-an. siangke goodreads emang. lebih siangke lagi ternyata DOOMED itu buku sequel buahahahhaha. kirain buku lepas satu jilid abis. summary-nya bilang kalo arwah cewek tajir upper state nyc gitu nyasar ke bumi karena mishap dari devil dan god. nah loh. udah gitu doang yang gue tau, plus gambaran kalo dia dulu sekolah di asrama khusus putri dan obesitas dan dia di-bully sama cewe2 kurus.

gue males sama novel yang ber-sekuel trilogi tetralogi anulogi. apalagi kalo gue udah telat tau eksistensi novel tersebut. males ngejarnya gitu. ah.





  • SPELLBINDER by helen stringer (fun fact? papi gue sampe bawa ini novel ke kantor buat dibaca ampe tamat sementara gue aja males ngelirik bahahahhahahahahahhahahah).
  • 400-an halaman.
  • boso indonesa. 65.000.

tokoh utamanya cewek. yatim piatu. bisa liat dan ngobrol sama hantu. orang tuanya yang udah meninggal masih tinggal di rumahnya, masak, bersih-bersih, baca surat kabar, nonton TV. setting di UK, kota fiksional gitu. nothing special. bahkan ampe gue baca halaman 200-an aja masih nggak jelas musuh utamanya itu siapa/apa, nggak jelas juntrungannya mau kemana plotnya. chapter dipotong kependekkan atau malah nggak signifikan sama sekali buat gue.

pokoknya bye lah gitu *anak jaman sekarang*



→→→
     →→→
→→→



kalo gue udah beken, biasanya, seperti manusia beken yang lain, gue bakal dengan senang hati ngirimin novel yang lo mau dari tiga judul di atas kemanapun lo berada; dengan catatan lo harus entah itu gambar komuk gue lah, memuji blog gue lah, ngomen ke entri ini lah. bahahahahahah. belom beken nih. kapan-kapan dah ye ada sayembara gitu kayaknya cihuy?

makasih udah mampir.



Wednesday, February 12, 2014

makhluk supernatural

setan, maksudnya.

bamby dan teman wanita terwesternisasi yoyon sama-sama menggemari neil gaiman. yah bamby nggak begitu sih , cuman yah intinya neil gaiman sering berkutat dengan makhluk supernatural. begitu pula dengan jonathan stroud dan buku barunya berjudul the screaming staircase yang membahas tentang hantu-hantuan yang diterjemahkan oleh tante poppy d. chusfani yang nulis http://logikatanpacela.blogspot.com/2013/09/review-buku-orang-orang-tanah-oleh.html

tete.

hantu dunia barat, maksudnya. hantu bule. penampakan. doang.

which is.


paham kan?

hantu dunia barat itu apa sih. penampakan. probably poltergeist, benda-benda yang bergerak sendiri. kalo ngemengin bentukan jelas tetep hantu dunia timur yang dahsyat. jepang dan thailand dan indonesia. bye.

kocak aja teman wanita terwesternisasi yoyon nemu meme eminem dan pocong yang sesuai dengan topik pembicaraan. lol.



Saturday, February 8, 2014

review buku "misery" by stephen f. king

"f" dari judul di atas itu "freaking", by the way, karena memang pakde stephen f. king ini beneran storyteller yang gaya bahasanya meledak-ledak, humornya dark banget gua nggak kuatituguabangetselerabambysekalibye, dan king dapat dengan mudah ngajak gua buat ikut merasakan sakitnya tokoh utama; frustasi dan, sinisnya tokoh utama tentang nasibnya dan semangat hidup si tokoh utama. ah.

semuanya masuk akal bersama stephen king, begitu.

perkenalan bamby dengan king berawal ketika diri ini tertarik dengan buku setebal 800 halaman berjudul "IT" yang iblisnya adalah, hayo tebak, yak benar, badut. lo tahu bamby kurang lebih terobsesi sama badut kan bahahahahh tapi saking ambisiusnya, sampai sekarang bamby baru membaca "IT"sampai halaman 130an karena terlalu kompleks dengan delapan tokoh utama dengan kehidupan berbeda-beda bertarung dengan iblis badut pennywise the dancing clown.

kemudian bamby pikir bamby menyerah sajalah dengan king. terlalu sulit didaki english-nya.

lalu pada januari 2014 beberapa minggu yang lalu, di karfur amplaz tersebutlah banyak sekali buku-buku impor berbahasa inggris king yang nggak 800 halaman diobral seharga 30,000 - 50,000an dan bamby yang memang tidak memiliki buku pegangan untuk dibaca rasanya sudah gatal harus beli buku akhirnya memutuskan untuk memilih "misery" (karena kalo nggak salah "misery" yang paling tipis di antara yang lain.)

sebelumnya gua udah pernah baca review tentang "misery", yang nggak bertema kekuatan supernatural tapi cuma pembunuh psikopat berbentuk mantan suster gemuk yang dikucilkan karena emang ada yang salah sama otaknya dan menyimpan scrapbook kliping surat kabar berita-berita pembunuhan yang pernah dilakukannya yang diberi nama 'memory lane' bahahahhahahah.

gua pikir, okelah sekali-kali cobain baca psikopat, "misery", kalo gua nggak salah, dianggap sebagai salah satu buku terbaik karya king.

lalu bamby beli.

lalu bamby baca.

lalu bamby terus baca karena super tete seru max.

lalu...
gambar 1 (dan satu-satunya): rentetan reka ulang wajah biasanya-marmos bamby ketika membaca bagian dimana tokoh utama...disilatimu...

*batuk batuk*

king bener-bener unconventional. bener-bener beda. kasar dan meledak-ledak dan bener-bener humor-nya dark banget, menyerempet ironis, sarkastis, histeris, dan pasrahtis. ada gak tuh pasrahtis. yah intinya, karena tokoh utama kita memang dalam keadaan yang memprihatinkan, wajar kalo humor-nya emang histeris tapi sarkastis dan dark dan perfect. bamby suka. bamby terkejut karena ketika baca "IT" dulu, entah karena english bamby masih cupu waktu itu, nggak ada rasanya seru atau ngeri atau simpati - nggak kayak ketika gua baca "misery" kali ini.

"misery" ditulis dengan third person POV, tapi seringkali dicampur dengan kata hatinya si tokoh utama. gua pengen banget banget banget ngasih contoh kenapa gua bilang "misery" cocok mamvus sama bamby kenapa "misery" ini keren sekali tapi seriusan, nggak bakal berasa kalo lo nggak baca sendiri, kalo gua cuma kasih sepotong-potong aja kekerenan max "misery".

kalau seperti ini caranya, tuan king, ente punya fans berat baru.

saatnya nyari lagi buku king yang lain di karfur amplaz. yang nggak tebel-tebel amat. "IT" disimpen dulu sampai entah kapan. king aja nulis "IT" sampai lima tahun baru selesai.

oh sayangnya, kalo bamby nggak salah inget, "misery" cuma ada satu kopi waktu gua nemu itu bulan januari lalu. tapi jangan sedih. segeralah baca karya king yang lain.



mungkin sebenarnya bamby cuma pengen berdialog sama lo lo pada terkait buku. kapan terakhir kali bamby dialog cerdas soal buku sama orang? kayaknya dialog internal terus beberapa tahun belakangan ini kemudian dimanifestasikan ke dalam review buku di logika tanpa cela. ah. dimana orang-orang? bahahahahah.



Sunday, September 29, 2013

review buku: "orang-orang tanah" oleh poppy d. chusfani




pertama-tama, seperti sudah sering gua koarkan, diri ini melihat cover depan suatu novel dan kemudian membaca sinopsis di cover belakang.

lo liat? "orang-orang tanah" kasusnya sama kayak katarsis http://logikatanpacela.blogspot.com/2013/06/gua-akhirnya-menemukan-sebuah-novel.html; ketika sebuah buku terbitan gramedia pustaka utama memiliki cover depan cool yang membuat bamby tertarik untuk mengambilnya dari rak. penulisnya bernama tante poppy yang sebelumnya berprofesi sebagai penerjemah (sama halnya dengan penulis "katarsis" wow apakah ini sebuah kebetulan atau takdir bahahahah) dan penyunting sebelum menulis karya-karyanya sendiri. dan buat gua, "orang-orang tanah" itu berarti 4 dari 5 bintang.

"orang-orang tanah" adalah kumpulan cerpen tentang kefanaan, perjuangan, dan pembalasan dendam—sebagaimana tertera di cover depan. ada sembilan cerpen, dan dua cerpen pembuka sama sekali nggak berkesan buat bamby yang sok high maintenance dalam membaca novel buatan orang indonesia.

oleh karenanya, tidak seperti "katarsis" yang gua baca dalam sekali lahap, gua butuh dua hari buat menyelesaikan "orang-orang tanah", no thanks to the first two stories yang berjudul jendela dan pelarian.

pastinya gua jadi agak agak selam ngelanjutin.

lalu pondok paling ujung dengan twist ending tete yang merupakan cerita ketiga sukses membuat gua nyengir kagum dan jadi semangat melanjutkan baca.

lalu bulan merah yang berasa bangsat kepedihan (ah, kata ini lagi. amcor…) tokoh utama/naratornya yang adalah seorang (seekor?) terkutuk di sekte tempat tinggalnya, yang sangat menyayangi ibunya, yang adalah lelaki naif, tersesat, dan bahkan nggak ada satu makhluk pun yang bisa menyelamatkan doi sama sekali. nggak ada.

lalu dewa kematian yang buat gua adalah contoh cerpen sakti mandraguna dalam mengungkap layer per layer misteri si narator, yang premise-nya kurang lebih bergaya sixth sense; filmnya si m. night shyamalan.

lalu pintu kembali, yang mungkin karena gua punya adek dua ekor jadinya gua bisa merelasikan diri ini dengan kiran si tokoh utama yang dalam perjalanan "kembalinya" yang dituntun oleh seekor anjing setia tapi digoda suatu karnaval meriah dan dihadang serigala besar.

lalu lelaki tua dan tikus yang menurut gua lumayan klise dan bisa ditebak tapi karena semalem (kebetulan atau takdir bahahahah) gua baru baca lagi coraline the graphic novel by neil gaiman dan ilustrator; dan coraline punya tetangga seorang lelaki tua yang melatih tikus-tikus bermain instrumen alias sama persis dengan setting cerpen ketujuh ini. bedanya, tikus-tikus lelaki tua tetangganya mbak sari nggak dilatih bermain instrumen tapi menghabisi _____ oke silakan baca sendiri.

lalu sang penyihir yang seriusan keren mamvus dari opening sampe ending. serius. emang klise, tapi cara tante poppy menyampaikan cerita adalah dua jempol. ketidak adilan akhirnya dibalas tanpa ampun di cerita ini. tokoh-tokohnya digambarkan manusiawi; ada yang baik hati nan pasrah. tapi yang gua seneng di cerita ini adalah tokoh yang pengecut. karena manusiawi. karena dia lemah. dan tokoh tidak tahu berterima kasih lainnya. ah. manusia memang menarik.

dan akhirnya orang-orang tanah. jeng jeng. cerita pamungkas yang emang mestinya dijadikan cerita terakhir dalam buku kumpulan cerpen ini. nggak seperti dewa kematian dan pintu kembali yang buat gua rumit, orang-orang tanah jauh lebih simpel, seolah-olah tante poppy emang sengaja membiarkan pembaca menebak-nebak jalan cerita dengan mudah. beberapa paragraf terakhir, ketika gua lagi khusyuk membaca, suara notification game subway surfer yang kenceng dari ifon gua sukses mempermalukan diri ini yang macho. kenapa? karena gua bergidik meskipun gua tau ibu tirinya alia bakal dimangsa orang-orang tanah yang tinggal di bawah pohon di rumah perkebunan bapaknya alia di kaki gunung. ngerti kan maksud gua. meskipun gua udah tau apa yang bakal terjadi, gua tetep bergidik. itulah tetenya orang-orang tanah.







kalo diperhatikan, sasaran buku-buku terbitan GPU dari penulis lokal yang selama ini gua beli genre-nya kejam-kejam. dan sejauh ini belum ada yang mengecewakan sob. mantap semua. baru dua sih bahahahah "katarsis" dan "orang-orang tanah". tapi seriusan. silakan cekidot kedua buku tersebut.


Sunday, June 16, 2013

wow

beneran udah berakhir, kompetisi 31 hari menulis yang diselenggarakan oleh jurusan ilmu komunikasi UGM.

gua baru tau ini adalah kompetisi, karena tahun-tahun lalu gua nggak memperhatikan detailnya. maka ini adalah saat yang tepat untuk berandai-andai. seandainya gua tahu dari tahun-tahun lalu kalo ini, apa yang udah gua lakukan selama 31 hari dengan bermediumkan laptop + speedy tete atau ifon yang nggak mendukung websitenya blogger...seandainya...

*

kenapa itu novel gagas media yang tokoh utamanya anak film IKJ beromansa bersama cewek jepang endingnya adalah cewek jepang itu ternyata menderita leukimia?

seriusan.

kenapa harga buku mahal? dan ini gua yang ngomong, gua. manusia yang nggak pernah perhitungan kalo beli buku. apakah ini karena gua, selama nyaris empat tahun ini, tinggal di dekat toga mas si toko buku diskon? bamby yang dulu tidak pernah peduli dengan rupiah yang harus dikeluarkannya di gramedia atau times atau periplus? not that i mind nowadays, but still. there's a slight change, and gua kaga demen. terus kenapa kalo harga buku mahal, bam?

yah, dulu di jakarta emang sering ada gramedia fair gitu, tapi paling terjadinya setahun sekali. dan mall di jakarta letaknya jauh dari rumah gua, dan berarti toko buku pun jauh karena toko bukunya ada di dalam mall. di jogja gua bisa ke tiga mall dalam waktu satu hari, dan di setiap mall ada toko buku dan bahkan, kasarnya, toko buku itu berceceran di jogja.

oke bam.

pertanyaan lainnya adalah, tiada lagikah novel bergenre fantasi yang diterbitkan oleh gramedia pustaka utama yang worth it buat dibaca? soalnya agatha christie memborbardir toko buku dengan desain sampul depan kecenya itu; yang abstrak dan simbolis dan modern itu. kira-kira ada belasan judul baru yang (anehnya) banyak yang belom gua punya.

tete.

eragon makin aneh dan kepanjangan. gua males baca "the hunger games trilogy." gua nggak inget judul lainnya. yang jelas gua nungguin sekuelnya jacob reckless yaitu "fearless", di periplus malioboro mall ada sebenernya dan di sana pula ada lemony snicket's anjer gua lupa judulnya tapi gua inget harganya 165,000.

not a problem.

yang jadi problem itu di sana, sampul novel "the great gatsby" = poster filmnya = lol no.

mulai besok setelah bulan juli, gua nggak akan ada kelas kuliah lagi. apa itu. bagaimana. ini bukan curhat. tapi, haha. wow. nggak ada kuliah. wow.

*soalnya neno suka sama siwon*



kalo dipikir-pikir, dulu gua SMA itu tiga tahun, dan ini gua kuliah menuju 4 tahun. dan abis kuliah terus ngapain bam. nyaris 16 tahun hidup lo itu dihabiskan di dalam sebuah institusi (karena manusia belajar sampe mereka mati). are you going to leave altogether, or what, bam? institusi. kalo misalnya kerja, itu berarti berada di bawah naungan institusi juga kan? same fucking difference. tapi kerja = uang = buku.

hm. menarik.



eh gua nemu foto yang cocok buat menggambarkan muka sehari-hari gua selain cony si kelinci LINE.


gua jadi pengen punya guguk siberian husky. tapi gendong kucing aja nggak pernah apalagi anjing. oh iya kelinci juga nggak pernah padahal dulu punya banyak sampai beranak pinak. gua pernahnya menyelamatkan burung peliharaan yang nggak bisa terbang tapi nyasar dari lantai dua ke garasi. bangke lah sensasi detak jantung burung peliharaan tersebut ketika bersentuhan dengan telapak tangan lo. and that bird was warm, karena kalo gua tulis pake bahasa indonesia kesannya nggak dalem.

kalo ikan yah lo tau lah. licin bersisik slimy berlendir. kalo bayi itu berat, wangi, imudh, gembrot.

*

saking terbiasanya dengan cuaca mendung jogja selama beberapa minggu terakhir, ketika ada matahari (bukan mas matahari bukan department store ini gua mencoba melucu) mencoba eksis di balik kesuraman awan abu-abu dan langit tak berujung ini gua mencoba berbahasa puitis - well. aneh ya. nggak terima, gitu. ngapain lo sok-sokan muncul hari ini? ck ck udah lah lo bertengger tanpa guna aja di atas sana, biarkan kita terbawa ketetean mendung setiap harinya.

*

azka, lo bakal komen entri ini nggak?

*

ini entri penutup kompetisi 31 hari menulis. kalo lo beranggapan yang barusan lo baca itu semacam curhat, go ahead. tapi ini bukan.

gua mau mengutip kalimat asoynya almarhum steve jobs; "stay hungry stay foolish" - tapi gua dulu cuman mikir kalimat itu keren karena gua salah persepsi. gua kira dia adalah jenius programmer-nya semua produk-produk apple. ternyata dia si-i-o. CEO. yaelah.

jadi intinya teman-teman, kalo kata oscar wilde,
"life is far too important to be taken seriously."





Tuesday, June 11, 2013

#27 dongeng patah hati (ini judul buku bukan judul entri)


entri ini ditulis bukan untuk menyakiti beberapa oknum tertentu, kayaknya sih bukan. entri ini lebih menjurus ke sebuah "kritikan tak mendasar seorang penulis yang setelah karyanya sempat ditolak gagasmedia kemudian dia pikir dia getir sama penerbit itu padahal enggak sama sekali karena dia macho."

kira-kira begitu.

satu hal yang bisa gua simpulkan setelah membaca kumpulan cerpen dongeng patah hati (KCDPH) adalah betapa populernya sudut pandang orang pertama yang digunakan oleh 18 penulisnya. gua pernah nanya sama ichahoo dan yoyon tete kenapa mereka lebih milih pake 1st POV itu; soalnya jadi lebih gampang buat menyampaikan emosi si tokoh utamanya.

kalo gua sesungguhnya geli sama 1st POV. geli dikira pembaca gua sebagai penulis menginvestasikan separuh/seperempat/sepertiga diri ini ke dalam sudut pandang tokoh utama novelnya. cih. dan kadang gua sebagai pembaca, yah, gua emang sering curiga kalo memang begitulah yang dilakukan oleh penulis-penulis cerita teenlit tersebut. mereka curhat dengan sarana - dengan wadah yang tidak konvensional; melalui tokoh utama novel mereka. nih gua kasih muka si cony,

do you get my point? curhat. ew.

KCDPH gua beli (dan gua baca) semata buat ngeliat pasar penulis yang nembus penerbit gagasmedia karena sampul novel-novel dari gagasmedia selalu oke punya selalu keren dan jempolan pokoknya.

ahem.

setelah membaca KCDPH, ego gua sebagai penulis pun lumayan terhina. sehina nyaris semua cerpen yang ada di KCDPH, karena gua harus akui ada tiga/empat cerpen yang semestinya nggak disandingkan sama produk-produk hina di situ; semestinya tiga/empat cerpen itu punya buku sendiri, maksudnya. dan hina disini tentunya sesuai dengan standar hina yang bamby usung karena belum tentu kita punya standar hina yang sama; dan gua mau ulang sekali lagi, gua beneran terhina waktu ngebaca KCDPH.

gua mungkin nggak bisa terlalu sok kalo menyangkut soal plot, karena gua tau gua rada lemah di situ; terlebih plot cinta-cintaan antara cewek dan cowok. jadi yang bisa gua tekankan mengenai kenapa gua terhina itu…lebih ke gaya penceritaan dan pemilihan frase dan eksekusi plot mereka.

intinya, mereka nggak se-pro mbak anastasia aemilia penulis katarsis. kecuali yang tiga/empat cerpen itu.

gua nggak bilang gua pro. sejujurnya gua bingung bikin plot percintaan cewek dan cowok yang nggak klise dan nggak maksa dan nggak bikin pembaca bete kayak gua waktu baca KCDPH. lalu apakah gua lebih baik daripada mereka? nggak juga, karena mana bam lo seperti ngemeng doang nggak ada direalisasikan novel perdana lo itu. ah. kesal, mungkin? yaelah. terheran-heran? nah, bisa jadi gua terheran-heran. sampah begitu bisa diterbitin, di gagasmedia pula, sementara elo yang masih terbelenggu rasa heran itu bakal terus dibikin heran karena lo nggak juga bergerak dan menggebrak.

makasih, bam.





oh ya teman-teman ini ada cuplikan dari chapter satu novel gua yang kayaknya mau gua…nggak lanjutin soalnya ora ono tokoh ceweknya (maaf, kebiasaan akut yang tengah berusaha diubah, suwer).





Summary:
    Enggar pikir beginilah dia akan melewati usia tujuh belasnya; belajar untuk Ujian Nasional dan kadang-kadang nonton film di bioskop dan jogging keliling kompleks perumahannya sebelum adzan Subuh berkumandang.
    Enggar pikir, di usia tujuh belas, tidak akan ada apapun itu yang mampu mengalahkan kedahsyatan kematian mendadak adiknya tahun lalu.
    Tapi tentu saja bukan begitu aturan mainnya.




PENA Enggar terhenti di . setelah mengisi kolom Tempat/Tanggal lahir dengan Jakarta, 31 Desember 1995.

    Dia pikir ‘membaca’ atau ‘mendengarkan musik’ atau ‘basket’ atau ‘sepak bola’ atau ‘berenang’ atau ‘nonton film’ bukanlah kegiatan yang bisa dia tulis sebagai jawaban untuk kolom Hobi yang tertera pada formulir pengenalan diri yang dibuat oleh wali kelas barunya.

    Karena...yah. Karena mereka bukan hobinya. Dia hanya, seperti manusia pada umumnya, melakukan kesemuanya selama kurang lebih tujuh belas tahun hidupnya; begitu saja. Berulang-ulang. Beberapa memang mengharumkan namanya dan menghadiahinya trofi-trofi berkilauan, terpajang di rak kayu di ruang tamu rumahnya, tapi tidak ada gejolak berlebih yang lantas mentahbiskan salah satu dari sekian banyak kegiatan dalam kehidupan Enggar Ananta sebagai hobi.

    Enggar mengintip formulir pengenalan diri Stefan, teman sebangkunya yang sudah sampai pada kolom Universitas impianmu.
   
    Hobi: Fotografi, edit video, main gitar :)
    Universitas impianmu: UI Teknik Elektro. ITB.

    “Eits,” Stefan nyengir sambil menutupi formulir pengenalan dirinya dengan lengan dan bahu kanannya. Enggar tidak balas nyengir tapi justru menatap serius Stefan, terus menatap selama beberapa detik lebih lama, dan akhirnya kembali pada formulir pengenalan diri miliknya.

    “Kenapa?” Stefan mengangkat sebelah alisnya dan duduk rapi seperti semula. “Beginian nggak penting, ya?”

    Kali ini Enggar hampir nyengir.

    “Gue nggak sekeren yang Gallant bilang.”

    “Ah.” Stefan mengangguk maklum. “Emang dia tuh suka sama lo. Sedih banget nasib lo, Nggar.”

    “Asal dia seneng.”

    “Hahahanjirrr.”
   
    *

    Pada akhirnya Bu Rita memanggil Enggar ke Ruang Guru sepuluh menit sebelum bel istirahat kedua berbunyi. Beliau mempertanyakan kenapa Enggar mengosongkan kolom hobi, universitas impian, dan motto hidupnya.

    “Saya―” Enggar mengernyitkan alisnya pada setumpuk formulir pengenalan diri murid-murid kelas XII-A yang ada di meja kerja Bu Rita dan teringat bahwa Bu Rita adalah guru Bahasa Inggris berusia tiga puluhan yang baru saja menikah.

    “Just because, Ma’am.” Enggar tidak suka mengangkat bahu di saat dia tidak berminat untuk menjawab atau menimpali atau berinteraksi dengan orang lain―aspek krusial yang membuat Gallant yakin kalau dia adalah cowok ter-cool seantero jagad―karena buat Enggar, mengangkat bahu terkesan mendegradasi tingkat intelijensinya. Tapi dia juga tahu tidak menjawab pertanyaan Bu Rita barusan adalah sikap tidak sopan yang bisa saja menjadi stereotip yang akan Bu Rita hadiahkan untuknya selama beliau menjadi wali kelasnya.

    Jadi, menjawab dengan subjek yang adalah bidang utama Bu Rita menjadi pilihannya. Dia menambahkan, berharap terdengar cukup demokratis, “No reason.”

    “Alright,” nada bicara Bu Rita terdeteksi geli-namun-tertarik, “would you like any help to determine your field of interest?”

    “That would be―” alunan Fur Elise dari Beethoven memotong kesediaan Enggar menerima bantuan Bu Rita. Satu menit lamanya Enggar mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut Ruang Guru.

    “Gimana?” Bu Rita masih tersenyum dan Enggar mengangguk singkat. “Nice! Kalo kamu udah siap, langsung aja konsultasi sama Ibu, oke?” Enggar mengangguk lagi secara otomatis.

    Seolah memahami kebisuan dan kedataran wajah Enggar adalah murni, beliau dengan ceria mempersilakan Enggar untuk menikmati waktu istirahat.

    Enggar mengucapkan terima kasih, mengantongi kedua tangannya di saku celana ketika berjalan menuju pintu, dan mendapati Gallant, Stefan, dan Ical sudah menantinya di koridor.

    “Kenapa, bro?” Stefan mengedikkan kepalanya ke arah Ruang Guru.

    Enggar menggumam.

    Gallant tidak membuang waktunya untuk segera merangkul bahu Enggar, lengkap dengan senyuman genit mengerikan yang tidak pernah absen membuat Ical terkikik dan Stefan menjulingkan matanya.

    “Kangen deh sama Enggar,” kata Gallant.

    (Enggar yang minggu lalu akan menghempaskan rangkulan Gallant tanpa ampun, tapi ketika menyadari resistansinya hanya membuat jeritan-jeritan fansclub Gallant(1) semakin menjadi, dia pikir mungkin tidak ada salahnya untuk ikut andil dalam Permainan Homo-Homoan ini.

    Ini baru hari Senin, minggu ketiganya menjadi murid kelas dua belas, dua hari yang lalu dia dan Gallant masih pergi Jum’atan bareng. Siapa yang bakal keluar jadi pemenangnya, bahkan seorang Enggar yang-katanya-Gallant-itu-cool pun penasaran.)

    “Kok lo nggak nyikut gue, Nggar?” Gallant menghentikan langkahnya. “Biasanya, harusnya, gue udah kena sikut lo dan gue sok mewek. Sementara elo dengan kerennya nyuekin gue,” dia memeriksa suhu badan Enggar, “lo nggak sakit, kan?”

    Stefan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ical menertawakan Stefan yang entah kenapa sangat terganggu dengan Permainannya Gallant.

    “Harusnya lo bisa terima gue apa adanya,” Enggar melingkarkan lengannya ke pinggang Gallant. Pose mereka cukup malu-maluin karena mereka berdiri sama tinggi, dan Stefan dan Ical mulai menjauhi mereka secara konstan. Koridor lantai satu masih dibanjiri lautan siswa dan siswi kelaparan yang bereksodus ke kantin, dan tak lama, teman-teman Gallant dari kelas lain yang kebetulan melihat―dari kelas sepuluh sampai dua belas karena Gallant adalah Cowok Paling Populer, Supel, Humoris, dan Jangan Lupa Ganteng―bersiul-siul iseng diikuti dengan cekikikan cewek-cewek fans beratnya Gallant.

    (Biasanya, harusnya, Enggar tidak suka dengan keramaian―terlebih menjadi pusat perhatian―tetapi melihat Gallant yang pembawaannya nyantai mendadak gelagapan, yah. Lumayan lah.)

    “Anjir anjir,” Stefan mendorong Gallant lepas dari pelukan Enggar. “Anjir, kenapa gue punya temen goblok-goblok gini?!”

    “Stefan trauma kayaknya.” Ical dengan damai berkomentar, dan Gallant menyikutnya. “Aw! Nggar, pacar lo nakal nih!” Ical mencibir, tapi dia lari mencari perlindungan di balik badan Enggar ketika Gallant mengangkat tangannya lagi.

    “Njir, Cal, lo jangan ikut-ikutan!” Stefan membelalakkan matanya.

    “Sakit njir...” Ical mengelus-elus dadanya sebelum dia tancap gas ke kios nasi kuning yang berada di ujung kantin.

    Mereka berempat mengantri di sana; Stefan sibuk dengan ponselnya, Ical bercanda dengan ibu penjual, dan Gallant menepis semua gosip yang dilontarkan padanya dengan senyuman paling memikat yang sering dia gunakan sementara Enggar diam tepat di hadapannya. Berani taruhan, Gallant tidak akan pernah kapok dengan tingkahnya yang memang layak menjadi bahan gosip satu sekolah, dia hanya sedikit terkejut terkait seberapa kooperatifnya Enggar tadi.

    Mereka mendapat meja kosong di dekat kios nasi kuning tersebut, dan benar saja, Gallant duduk di sebelah Enggar; menggeser bangku plastiknya sepersekian senti lebih dekat lagi sampai kedua lengan mereka bertempelan. Enggar kidal, Gallant tidak, dan sepertinya Gallant cukup senang dengan ketidaknyamanan yang diciptakannya.

    “Anjir.” Stefan menciduk sesendok nasi kuning dengan kekuatan yang tidak perlu. Ical dengan acuh menambahkan sambal kacang banyak-banyak ke piringnya.

    “Ini makhluk mulutnya perlu dipasang filter,” Gallant berkata prihatin, “Fan, kenapa sih lo bete banget kalo liat gue mesra sama Enggar?”

    “Anjirrr...” Stefan menarik napas dalam-dalam, tetapi tidak terpancing oleh keabsurd-an yang di otak Gallant adalah topik yang tepat untuk membuka obrolan ringan di siang hari.

    “Kalo gue nggak tau lo naksir berat sama Maya gue ngeliatnya lo jeles karena gue mesra banget sama temen sebangku lo.” Ical menyambut ajakan tos dari Gallant dan Stefan membuat tanda salib dengan terburu-buru, kemungkinan besar berdoa tidak ada seorang pun yang mendengar ocehan Gallant tentang Maya atau berdoa agar dikuatkan imannya supaya dia tidak membunuh Gallant dengan garpu yang dicengkeramnya.

    Enggar menonton teman-temannya bertingkah, karena kalau Gallant adalah leader nyeleneh mereka dan Stefan adalah Si Kurang-lebih Normal dan Ical punya Mental Anak TK, maka Enggar adalah Penonton Setia yang masih belum paham alasan kenapa Gallant, Stefan, dan Ical tiba-tiba mendatanginya di hari pertama mereka menjadi teman sekelas dan mengajaknya jajan di kantin bersama. Bahkan Stefan―setelah kalah main hompimpa―menawarkan diri menjadi teman sebangkunya Enggar dan membawakannya amplang keesokan harinya.

    (Enggar punya beberapa teori Kenapa. Mungkin dirinya terlihat nelangsa sendirian mendengarkan musik di iPodnya, duduk diam di bangku barisan paling belakang kelas XII-A yang ramai oleh jeritan-jeritan senang asyik-kita-sekelas-lagi! Mungkin Stefan yang memang datang terlambat tidak kesampaian bertempur untuk mencari bangku dan/atau teman sebangku yang bukan orang asing, dan hanya Enggar yang tersisa. Mungkin Gallant benar-benar suka padanya? Ha ha.)

    Enggar mengerjapkan matanya ketika ada sesendok penuh nasi kuning datang dari arah Gallant, yang tengah tersenyum penuh harap. Dari sudut matanya, Enggar melihat Ical menodongkan iPhone berhiaskan stiker Shaun the Sheep milik Gallant di udara, siap mengabadikan momen yang hanya bisa terjadi kalau saja tidak ada seseorang yang menyenggol badan Enggar sampai dagunya terantuk sendok yang akhirnya jatuh ke lantai kantin.









(1)
adjective: |ˈgalənt| (of a person or their behavior) brave, heroic.

noun: a dashing man of fashion, a fine gentleman.


















gimana, sodara-sodara, cuplikan novel-yang-kayaknya-kurang-potensial-buat-pasar-indonesia punya gua? komentarnya ditunggu; masukan, kritik, ih bam keren, dan saran.

atau apa gitu kue gua juga mau.

p.s. itu judulnya "anak laki-laki" dan gallant bukan tokoh utama keduanya. sayangnya. haha.







Monday, June 10, 2013

#26 katarsis, sebuah novel oleh anastasia aemilia


gua akhirnya menemukan sebuah novel indonesia yang nyaris sempurna.
sempurna sesuai selera gua, maksudnya.



gua baca novel ini tadi siang. 261 halaman gua abisin dalam waktu kurang lebih tiga jam. gua nggak niat buat baca dengan khusyuk, cuma "ah beberapa chapter aja sabi terus bab 1," tapi lol. bab 1 apa?



dari profil singkat penulis, dikatakan kalo mbak anastasia awalnya pengen jadi seorang travel writer tapi banting setir jadi penulis psychology thriller dan bangke emang katarsis beneran novel psychology thriller yang gua kasih 4,5 bintang dari 5 bintang.

ini dia beberapa alasan solid kenapa katarsis cocok sama bamby;

1. gaya penulisan mbak anastasia.

gua baca katarsis layaknya baca novel terjemahan, lo bakalan bisa banget membedakan gaya nulisnya mbak anastasia versus novel teenlit yang belom lama ini gua baca (dan bakal gua angkat jadi topik besok). usut punya usut, mbak anastasia ternyata udah kerja lama di GPU (gramedia pustaka utama) sebagai penerjemah dan editor. dahsyat gan.

    "Tubuhku tak bisa merasakan luka. Tapi setiap mendengar psikiater itu menyebut nama Tara, atau ketika mendengar Tara menyebut nama Alfons di peron pagi itu dan meminta izin padanya untuk makan malam bersamaku, aku mulai mengerti dengan apa yang dimaksud ibuku soal kebahagiaan yang getir. Asalnya bukan dari luka-luka di lenganku, tapi di sini, di dadaku. Aku membenci rasa itu, tapi juga sedang menikmatinya." (hal. 186)

    "Dia benar. Biasanya polisi selalu benar. Dan kalau tidak benar, biasanya mereka keras kepala dan sok tahu, dan lama-lama menjadi benar. Tapi mungkin dia benar." (hal. 232)


buat gua yang kalo baca novel indonesia seriusan milih-milih alias high maintenance baik dari segi cerita, gaya penulisan, dan keseluruhan novel itu sendiri, well, katarsis jelas nomor satu. 5cm? lewat. dan hujan pun berhenti? nyampah.

2. karakter utamanya.

adalah cewek belia. tara johandi. digambarkan cantik berambut panjang dengan pipi berlesung pipit yang sayangnya memudar. didiagnosis sebagai sosiopat/psikopat yang nggak bisa berempati, pintar membaca suasana dan karenanya jago ngibul, kejam, smart, sepanjang cerita beneran nggak minta dimanja/berharap ada orang yang 'mengerti' dirinya, sinting, dan pada intinya dia adalah gambaran ideal tokoh utama cewek yang semestinya bisa muncul di novel-novel gua. oke, mungkin nggak separah tara, tapi kurang lebihnya begitulah kawan-kawan. haha.

tapi gua pikir apa yang lo barusan baca nggak mampu mendeskripsikan seberapa unbelievable-nya si tara ini. lo harus baca sendiri biar lo bisa paham. dan ini gua yang ngomong, gua. yang alergi punya tokoh utama cewek di novel yang gua tulis sendiri, jadi tara yang berhasil bikin gua memuji dirinya, well lo beneran harus baca katarsis.

3. efek tak kasat mata yang gua dapatkan.

darah. daging yang busuk. tulang patah. penggambaran adegan-adegan sadis yang detail dan nyaris―nyaris―bikin gua yang macho ini ngilu. dan itu tadi. nuansa kelam sepanjang cerita yang nggak bisa lepas selama gua membaca katarsis. dari sudut pandang gua sebagai penulis (ayo semuanya bilang amin), kalo lo bisa ngejaga satu sensasi tertentu ketika lo baca sebuah buku―sensasi yang langsung menyergap lo dari halaman-halaman awal buku sampai halaman terakhirnya―anjir itu yang namanya penulis berhasil, konsisten, profetetesional, dan jelas tau banget dia lagi ngapain.

mbak anastasia tau dia itu nulis novel psychological thriller, dan emang ada percikan romansa yang dia sisipkan, tapi bahkan romansa―yang selalu manusia cari dimanapun, dalam bentuk apapun, dan kadang justru ngerusak plot―romansa yang ada di katarsis ini pun sifatnya destruktif, bung. destruktif, posesif, berada di luar batas nalar lo soal romansa yang biasa lo baca di novel-novel teenlit iya gua lagi sarkas.

4. sampul depan.

ya maksud gua, lo tau lah biasanya sampul depan novel-novel indonesia terbitan GPU seringnya menjurus alay, norak, bikin mata bete. tapi katarsis? lo liat kan itu ada anak kecil cewek ngangkat boneka yang kepalanya copot? nah, itu dia.

5. alur.
mbak anastasia. ah gua jadi pengen kenalan sama embak. sayang dia nggak mencantumkan email atau FBnya. diri ini ingin banyak bertanya padamu, mbak anastasia. haha.
so. alurnya.
cepat, dinamis, nggak bertele-tele, jelas, dan melompat-lompat dari present time ke past - dan waktu ganti bagian (bukan chapter), ternyata point of view-nya pindah ke tokoh cowok utama bernama ello. dan ada chapter yang beneran selang-seling dari tara > ello > tara > ello lagi. 4,5 bintang gua nggak sia-sia.

6. judulnya.

katarsis. kata serapan dari bahasa inggris catharsis yang lumrahnya diterjemahkan sebagai suatu bentuk pelepasan emosi yang ditumpuk-tumpuk dengan cara entah mecahin piring, meninju tembok, berteriak di ruangan kosong, atau kalo sampai tingkat ekstrem ya mungkin bunuh orang atau menyayat pergelangan tangan.
satu kata aja itu judul novelnya mbak anastasia. katarsis. udah gitu doang. tapi wooow nggak sanggup lah silakan baca artikel ini, http://youarenotsosmart.com/2010/08/11/catharsis/







gua bilang katarsis ini nyaris jadi novel sempurna. nyaris. berikut beberapa alasan kontradiktif buat pujian-pujian di atas;

a. psikiater-nya si tara, namanya alfons, diceritakan punya tunangan. tapi cuma muncul sekitar dua paragraf dan nggak pernah disebut-sebut lagi padahal (spoiler, sori nih) si alfons m_ _ _ woy. sebagai tunangan bukannya doi kudu nangis meraung raung mempertanyakan dan heboh sana sini. tapi mana doi nggak muncul sama sekali tuh padahal pemberitaan kem_ _ _an alfons semerbak di media. dan nggak ada isyarat kalo alfons memutuskan tali pertunangan atau gimana.

b. daun mint yang fungsinya apaan nggak jelas. apakah aromanya bisa menyamarkan bau daging busuk termutilasi di gudang rumah lo?
air putih menyegarkan yang selalu alfons kasih ke tara, apa gunanya? apakah itu air putih biasa? tapi kenapa selalu diceritakan dengan detil di setiap kali tara meminumnya? jangan-jangan air putih itu ramuannya si alfons biar tara waras?

c. plotnya.
lo boleh panggil gua sok (biar sepakat sama mami gua), tapi plot katarsis ini ketebak. buat gua yang sedari jaman jahiliyah udah melahap novel-novel agatha christie, katarsis...yah...sebenernya biasa aja kalo yang nulis bukan si mbak anastasia yang notabene adalah orang indonesia. tapi karena yang nulis adalah orang indonesia (plus enam poin di atas)―4,5 bintang bukanlah sesuatu yang berlebihan buat katarsis.

d. alasan tara membenci orang tua kandungnya sendiri.
katarsis ditulis pake point of view orang pertama, pake "aku", dan harusnya kalo pake POV begini si tara bisa  menceritakan jauh lebih dalam lagi kenapa dia benci namanya sendiri, tara, yang adalah gabungan dari tari dan bara; mama dan papanya.

kalo soal kecenderungan psikopat/sosiopatnya si tara, udah keliatan dari waktu dia berumur lima tahun, tapi kenapa―seriusan tete ayam―kenapa dia benci mamanya yang lembut itu? yang dia b_ _ _ h di tangga rumahnya itu? papanya sempat disebut "memukuli mamanya", oke fine, gua bisa terima, tapi terus apaan? (soalnya diceritakan sambil lalu aja, perihal papanya memukuli mamanya. kurang detail. atau emang si mbak anastasia sengaja nggak membeberkannya?).

menurut gua, isu ini harusnya bisa digali lagi - atau bahkan dieksploitasi sebagai titik nol latar belakang tara si sosiopat/psikopat. untung aja (maklum gua pembaca high maintenance) si tara nggak pernah bersikap kayak cewek-cewek korea yang melenguh manggil "oppa" mereka pake suara sengau menggelikan. untung aja.










apa lagi yang bisa gua bilang tentang katarsis? bahwasanya masih ada novel indonesia yang nyaris sempurna buat selera sok high maintenance gua? bahwasanya bamby bisa bikin entri berkualitas macam bedah/review buku kayak gini yang mungkin bisa menyelamatkan muka logikatanpacela dan mungkin mengantarkan bamby ke takhta pemenang kompetisi 31 hari menulis? haha.

oke besok gua bakal bedah/review novel teenlit keluaran gagasmedia yang pernah bikin gua memaki di status FB dan BBM. besok.

sekian dulu.






mulai membanding-bandingkan

seiring bertambahnya umur,  gue lebih memilih untuk punya rutinitas. kenapa gue gak suka kerja retail clothing waktu masih di UK? karena shi...