Thursday, October 5, 2017

APRIL DAN GALLANT (cerpen)




Jadi gue punya dua karakter yang sangat menarik; namanya Aprilianda (April/cewek) dan Gallant (cowok). April pernah muncul di sini: https://logikatanpacela.blogspot.co.id/2014/11/lol-cerpen-untitled.html

Di kisah utamanya, mereka berdua umurnya masih 19 tahun, sempat sekelas di kelas 12 SMA, tinggal di kompleks perumahan yang sama hanya berbeda jalan saja, dan ketika upacara kelulusan, April dengan santainya menyatakan perasaannya pada Gallant—yang tentunya adalah cowok paling populer karena dia ganteng dan ramah—membuat Gallant terbengong-bengong nggak nyantai karena, hei, sejak kapan teman sekelasnya yang merupakan salah satu cewek paling kalem, paling murah senyum tapi tidak pernah benar-benar ikutan menggila bareng, cewek yang tidak mau pergi ke sekolah bareng meskipun Gallant tidak keberatan untuk memboncenginya ini… suka padanya?

Dan lagi, apa-apaan si April?! Dengan santainya menambahkan, “Gue cuma mau ngasitau aja. Lo nggak usah jawab apa-apa, begini udah cukup.”

Nah.

Klise, tapi biasanya si cowok yang ngomong begitu. Bukan si cewek.

Tapi ya namanya juga Bamby.

MuahahahahHAHAHA.

Dalam rangka membangkitkan semangat menulis dengan Bahasa Indonesia dan #31HariMenulis, gue mau mencoba membuat baaanyaaaaak skenario untuk kedua orang ini! Semoga terwujud! Skenarionya tidak berkaitan satu sama lain! Semacam cerpen yang bahkan lebih pendek dari cerpen! Skenarionya ada yang gue ambil dari Tumblr ada juga produk sendiri~









1: HOGWARTS
Untuk Azka



            “Hi.”
            Cewek itu menoleh ke arah Gallant yang sudah siap dengan Cengiran Tampan Khasnya, dan ia balas tersenyum dengan manis; bibirnya yang tipis berwarna merah menyala dan kedua matanya yang bulat besar itu membentuk separo bulan sabit.
            “Hi,” katanya singkat, kemudian mencopot sejuntai kabel putih dari telinga kirinya.
            Gallant melebarkan pintu kompartemen dan bertanya, “Kosong, ya? Gue boleh duduk bareng lo?”
            “Silakan,” jawab cewek itu dengan santai, mengangguk pada bangku kosong di hadapannya. Gallant memerhatikan ada sebuah koper berukuran sedang di atas kepala cewek itu, berwarna sama merah dengan bibir tipisnya. Ia tidak tahu apa fungsi dari kabel putih yang cewek itu pakai di telinganya, dan apa benda yang tengah cewek itu pegang; sebuah perangkat muggle canggih, mungkin? Bentuknya kotak, tipis, pink.
            “Thanks, kompartemen lain berisik banget.” Gallant memilih alasan paling masuk akal yang bisa dipikirkannya, dan ia menutup pintu dengan pelan.
            “No problem,” kata cewek itu lagi, masih dengan santai, dan Gallant berpikir mungkin karena pembawaannya yang kelewat santai inilah yang membuat teman-temannya merasa perlu untuk mengerjai Gallant.
            Untungnya Gallant juga kurang kerjaan.
            “Anyway,” Gallant berdeham, “gue Gallant. Gryffindor tahun ketujuh.” Ia menyodorkan tangan kanannya dan cewek itu pun menyalaminya dengan mantap namun singkat. Tangannya halus dan wanginya mirip apel.
            “April, Ravenclaw. Tahun ketujuh juga.”
            “Masa sih kita seangkatan? Gue kayaknya belum pernah liat lo, deh!”
            “Maksud lo belum pernah lo cium kali?”
            Oh, shit.
          Gallant tertegun. Jantungnya berdegup tak keruan—kepalanya kosong dan tenggorokannya mengering. Biasanya… biasanya tidak pernah ada cewek yang mempermalukannya seperti ini; biasanya setelah Gallant menyatakan kalimat pamungkasnya tadi, seharusnya, cewek-cewek lain akan merasa perlu untuk menarik perhatian Gallant lebih jauh lagi dengan cara menyentuh lengannya atau tertawa keras-keras ketika Gallant melontarkan lelucon tak lucu sama sekali—karena mereka melihat sebuah kesempatan untuk bisa jadi lebih dekat dengan Muhammad Gallant, kapten tim Quidditch Gryffindor yang sangat populer, bukannya menyatakan kalimat pamungkas balasan yang justru mengalahkan upaya Gallant untuk membuka celah dan memastikan reputasinya sebagai Yang Tak Pernah Ditolak.
            “Ahh…” Gallant meringis, menggigit bibir bawahnya dan mengusap tengkuk lehernya; tidak tahu harus berbuat apa. “Kedengeran, ya?”
            April tertawa kecil, mengiyakan tanpa berkata apa-apa. Pipinya yang penuh itu membulat, membuatnya terlihat sangat manis. Ia tidak tampak gugup sama sekali, hanya masih menatap Gallant dengan santainya, seolah ia menantang Gallant untuk melanjutkan apa yang telah dimulainya dengan sangat buruk.
           “Sori banget,” Gallant berkata dengan suara sangat pelan, “gue sama temen-temen suka gabut kalo baru masuk.” Ia tidak berani mengangkat kepalanya. Ngomong-ngomong, April memakai sepasang sepatu muggle yang sangat keren. Pergelangan kakinya yang putih itu dibalut kaus kaki transparan. Gallant teringat akan mata pelajaran Muggle Studies dan ia pikir fashion muggle kadang sangat aneh.
            “Nggak apa-apa.”
            “Seriusan, sori banget, ya.”
            “Iya.”
            “Lo mau jajan sesuatu nggak? Gue beliin, ya?”
            “Nggak usah, gue bawa Oreo.”
            “Oreo?”
            April tersenyum dan Gallant menangkap kesan bahwa ia luar biasa senang dengan topik baru ini. Ia meletakkan benda muggle kotak tipis pink di bangku, dan mengaduk isi tas punggungnya yang berwarna sama merah dengan bibir tipisnya.
            “Oreo itu biskuit. Ada isian krimnya,” kata April sambil merobek bungkus biru Oreo. “Cobain deh, enak.” Ia mengambil satu keping biskuit bulat dengan isian krim berwarna ungu dan merobek lebih lebar agar Gallant bisa dengan mudah mencicipi.
            “Eh, iya.” Gallant terbelalak setelah satu gigitan. “Kok dingin gini, sih? Agak asem juga.”
          “Enak, kan?” April tersenyum. “Gue stock Oreo banyak kok kalo lo mau lagi, cukup sampai akhir tahun. Biaya pengiriman ke Hogwarts mahal banget soalnya.”
           “Lo dari Indonesia, ya?” Gallant bertanya, menjilati jempolnya. “Gue juga orang Indonesia, sih. Tapi mami papi udah dua puluh tahun di London dan udah jadi warga negara Inggris.”
            “Hmm,” April mengangguk, “pantes aksen lo native banget.”
          “He he iya.” Gallant nyengir, senang karena tidak ada rasa canggung yang tersisa di antara mereka. April benar-benar santai dan kalem, meskipun Gallant cukup yakin kesan pertama yang ia berikan jauh dari kata ‘menyenangkan’. Apabila posisi mereka ditukar dan ia adalah April, ia tidak akan mau meladeni seorang cowok kurang kerjaan yang menerima begitu saja tantangan teman-temannya untuk mencium cewek manis yang duduk di kompartemen 31.
            Gallant mau dicium Dementor saja rasanya!
“Erm, apa nama kampung halaman lo di Indonesia?”
            “Meikarta.”
            “Meikarta?”
            Tiba-tiba April mendengus. “Nggak, sori,” ia terkikik geli sendiri dan Gallant khawatir ia akan tersedak Oreo. Ada semburat pink di wajahnya dan setitik biskuit hitam Oreo di ujung bibir kanannya. “Sori. Gue dari Bali. Mungkin lo pernah denger?”
            Gallant memberi kode pada April dengan cara menyentuh ujung bibirnya sendiri dan April mengusapkan punggung tangannya ke bibirnya, mengangkat kedua alisnya yang digambar rapi.
           “Udah ilang,” jawab Gallant, “mami gue bilang mau ngajak liburan ke Bali kalo nilai-nilai O.W.L. gue minimal Acceptable.”
           “Emang nilai lo apa?”
           “Beberapa ada yang Poor, ada yang Acceptable.”
           “Exceeds Expectations?”
           “Nggak ada bahahaha!”
        April berhenti mengunyah. Ia menelengkan kepalanya seolah berpikir keras, dan akhirnya bertanya dengan gaya Santainya, “Lo mau belajar bareng gue?”
            Gallant tergagap-gagap, “S-Serius?”
            “Serius. Siapa tau gue ketularan populer kalo kita keliatan bareng di perpustakaan.”
            “Pasti lah, lo kan manis.”
            April tertawa lebar. Bahunya terguncang dan ia bertepuk tangan girang. Deretan giginya putih dan rapi dan seperti dirinya secara keseluruhan; mungil.
Gallant dibuat melongo, tidak yakin dengan pemandangan luar biasa tidak biasa yang terjadi detik itu juga.
“Cieeeee gue dibilang manis sama Pangeran Hogwarts.” April mendengus, terdengar sangat bangga dengan lelucon privatnya. “Kapan lagi, kan?”
Sebenarnya Gallant tidak masalah jika harus sering-sering mengingatkan April betapa manis dirinya, tapi mungkin lain waktu saja, lihat nanti bagaimana ke depannya.



END



Sunday, October 1, 2017

#31harimenulis: INTRO


upaya membangkitkan blog ini kembali is so real.
gue bingung pake bahasa apa *edan*

mungkin di beberapa postingan coba bahasa indonesia yang baik dan benar, ya? hitung-hitung latihan menulis novel yang seharusnya sudah ada dari dulu.

dulu.

ah.

baiklah ini intro.

selamat menikmati sajian #31harimenulis/#31dayswritingchallenge. jangan lupa berikan komentar! terima kasih.

Saturday, March 18, 2017

to whomever it may concern (5)




i'm sorry.
i've passed the textbook of grief that i read on the internet. yet i talk about you to my new friends the old version of you, the one who was supposed to glow like those skinny boys your age do, somewhere far away where i bought you a backpack that you never used, probably because the you right now is too young to be graced with such friend.

i'm sorry.
of all things that i want you to do, things that you should but now it's could, one of them is to see you standing tall and smug with what you have, which is your face and everything, as i, supposedly to, use you as a projection of how a boy your age should look like (well, in my mind, those skinny boys hurt me because you looked just like them but you don't have to be them).

i'm sorry.
as long as you're healthy now and forever, i'll let you read those fantasy books that you like so much, those fantasy books that make me question my own capability because it's going to be days, hundreds of them, before i can write one for you.

i'll let you wear ugly patterned bermuda shorts mom picks diligently for you.

i'll let you do whatever you want.

i'll let you barge in without knocking with your little brother to annoy me like you two used to so we can have a great off-key karaoke session like we three used to in that language we're familiar with therefore,

i'm sorry.





Saturday, November 26, 2016

teman pulang


setiap hari jumat bamby pulang ke rumah. yang jauh dari mana-mana itu.

anyway, bamby naik bis. nggak ada bangku mepet jendela tersisa. yang ada adalah seorang bocah remaja laki-laki membawa tas besar, bertopi, dan nggak pake jaket. which was a wrong shit to do. ini bis ber-AC sodara, sebagai seorang bis rider veteran, gue nggak pernah lupa untuk selalu pake jaket.

yah.

bocah remaja ini, literally lima detik setelah gua duduk dan meletakkan tas gua di bangku tengah, bertanya, "mau kemana kak?" dengan nada yang tidak friendly, tidak dibuat-buat.

defensive, gua tanya balik, "lah, lo mau kemana?"

dan dia gelagapan. "lah, ya gue. gue mau ke cilacap."

"oh." gue menyahut acuh, dan menambahkan juga dengan acuh, "mudik, ya? enak dong."

dan bocah remaja itu langsung nyambung, "iya, gue udah lima tahun nggak pulang. kalo nggak karena nyokap meninggal juga gue nggak bakalan pulang."

gue menggumamkan belasungkawa dan bertanya, "lima tahun? umur lo berapa?"

"delapan belas. dari gue umur tiga belas gue ngerantau. banyak kerjaan serabutan. sempet ngamen beberapa bulan. tapi sekarang gue kerja di bintaro, pasang wifi telkom. tau kan wifi?" dan dia menyebutnya 'wi-fi', bukan 'wai-fay'.

"iye tau. bagus dong banyak pengalaman, lanjutin. lo kenapa gak pernah pulang? gak punya temen di cilacap?" gue bertanya lagi, basa basi sedikit.

"gimana ya. gue ama temen-temen di sana udah misah jauh, sih, kak. udah beda gitu jalannya. gue juga gak suka di rumah. kayak terkekang."

bocah ini hapal lagu pengamen yang dinyanyikan pengamen galak sepanjang jalan tol, bahkan tampak bangga melakukannya. hapenya blackberry layar sentuh. dia nyanyiin lagu desy ratnasari yang tenda biru, dan the chainsmokers don't let me down, dan seterusnya. jujur, gue sempet mikir mau ganti bangku, karena itu adalah hari jumat. gue maunya nyantai di bis, mungkin tidur sedikit sambil dengerin lagu. a conversation with a kid? wasn't really in my agenda. tapi ini anak gak sok kenal, gak sok friendly. he was okay. spoke too loud. seemed paling cihuy maybe, and sang along to what he listened, sure, but he was okay. i was not. soalnya AC bis langsung menuju ke kepala gue dan gue belom makan bahahahahhahaha.

gue izin ke dia buat pindah bangku.

dan gue pindah karena dingin banget.

lalu balik lagi ke tempat semula ketika gue hampir sampai di pemberhentian.

singkatnya, gue ngobrol dikit lagi. kasih advice. lo kalo ada rezeki mending ambil paket C yang buat lulus SMA (iya sih kak, bokap juga maunya gue gitu tapi gue nggak mau) wah kenapa nggak mau, hari gini nggak bisa lo cuma lulusan SMP, minimal tuh SMA gue kasitau aja nih bro, sebagai orang yang lebih tua ha ha (emang kakak kuliah?) oh gue udah kerja, jadi gue tau gimana susahnya cari kerja, nih lo kan punya hape, lo belajar deh tuh bahasa inggris dari hape, google aja yang gratis, karena itu juga penting (iya gue kalo bahasa inggris bisa lah, ngerti) bagus lanjutin, jauhi narkoba juga penting (wah gue nggak pernah tuh kak, paling parah gue tuh ngerokok, kalo minumnya juga teh pucuk, gue nggak mau kalo narkoba) bagus bagus, seriusan jangan pake narkoba deh (iya kak, abang gue tuh pengedar tapi gue gak mau--)

"sori bro gue turun sini. sukses, ya." dengan berat hati gue harus memotong curhatan si bocah remaja yang hingga kini gue nggak tahu namanya. gue pun berdiri, bersiap turun, dan well, i almost lost it when he told me,

"hati-hati, ya, kak!" because that was a small thing, right? very mundane. out of formality, maybe, but i almost lost it. he was a good kid. and i was ashamed to have thought less of him, cuma karena dia ngajak gue ngobrol duluan dengan gaya sok cihuynya dan suara kerasnya literally everyone in the bus could hear his curhat. seriously. hati-hati, ya, kak!, he said. and he wasn't even my anyone. muahahahahahahahahah. dalem, bro, dalem.

intinya i wish you all the best, bro. thank you juga. for reminding me about small kindness from stranger. about humanity. i will pray for you. kalo suatu saat kita ketemu lagi dan lo mengenali gue, just say hi and i will treat you food, really. gue nyesel gak punya cash sama sekali kemarin malem. gue nyesel akan banyak hal dan gue cuma bisa nulis di sini, bro. have a good day.





Tuesday, September 6, 2016

speaking of lagu menye


doi bukan dari amerika muahahahahaha. doi dari inggris. kurus kurang berisi, rambut berantakan (sama kayak ane maksudnya), dan suaranya tipikal suara pria penyanyi genre folk pada umumnya. but who caresssssssssssssssssss gilsssss lagunya jenis lagu menye yang cocok di telinga bamby.

ya, betul, it's 'let it go' from james bay.



beuh.

udah pernah dengerin kan?

when he sings LET THE ASHES FALL!!!! FORGET ABOUT
MEEEee~

beuh.

amazing. 'dapet' banget bro. kayaknya doi udah nyerah banget. salut dengan cara doi menyampaikannya ke kita-kita yang mendengarkan sambil bengong atau mungkin lo semua yang pernah berada di posisinya kala itu. that part worth repeating all over again.



p.s. hore tiga hari berturut-turut posting.



Monday, September 5, 2016

beyoncé dan paparan budaya pop amerika


sebenernya postingan ini diilhami ketidak pahaman ane terkait beyoncé. yang berasal dari amerika. kemudian merambat ke snapchat yang notabene adalah social media buatan amerika.

pertama-tama, gue nggak paham kenapa tampaknya semua orang, literally everyone dari yang jelata sampai yang sesama selebritas itu memuja beyoncé. asli. lol. perlu dicatat gue 'tidak paham' bukan 'tidak suka'. gue merasa netral dengan beyonce atau queen bey dan meme slayyy girl slay seperti itu. gue cuma nggak ngerti apa hebatnya dia.

mbak yoncé di video klip terbaru lemonade - no bamby belom pernah nonton....



lalu, snapchat. di halaman friends, snapchat menampilkan akun-akun official macam MTV, buzzfeed, vice, dan lain-lain yang isi kontennya berdasarkan demografi amerika, bukan the world as a whole apalagi indonesia. dan gua jadi mikir what the fuck man, emangnya gua perlu? bahahahhahaha. gua  terpapar informasi yang tidak sesuai kebutuhan meski ada pepatah mengatakan banyak-banyaklah membaca karena membaca = jendela informasi, which is absolutely true, but still.

ah. amerika.

beberapa waktu yang lalu gua ikutan program leader development bersama mahasiswa jepang. salah satunya temen sekamar gue yang pernah tinggal di amerika waktu sekolah dasar dan termasuk gaul bahasa inggrisnya lancar dan dia nggak tau kim kardashian itu siapa. gue? gue tau. dan gue malah salut sama temen sekamar gue yang nggak tau kim kardashian.

gitu loh. amerika. budaya popnya. pengaruhnya. lo pada pernah liat selebgram kimcil-kimcil jekardah? gils semua gayanya ala ala kylie jenner coy muahahahahah. tentunya bamby disini berbicara sebagai orang tua di usia 20an. banyak yang bilang waktu adalah ilusi. ilusi my ass. it flows so fast you can barely feel it and suddenly it's you who needs to change. memang kalo nggak bisa beradaptasi lo bakalan berhenti di satu titik sementara semua orang berlari jauh cahilah. not speaking from my experience bro, cuma menyatakan fakta di lapangan.

anyway balik lagi.

lo tau penyanyi cewek mø? yang duet sama major lazer di lagu ngehits taun lalu 'lean on'? dia ganti warna rambut, dari brunet ke blond, dan akhirnya, menurut gua, cuma jadi tipikal penyanyi pop kulit putih pada umumnya. emang sih dulu dekil bet buahahahahha diganti blond jadi mayan. ha? apa, bam? iya, benar, bamby juga nggak dengerin mø kok lol.

lagunya berjudul final song dan itu boring bangats gue nonton di tv kabel. ps. dulu dia dekil banget LOL



kalo kata miley cyrus di lagunya yang ikonik itu remember only god can judge ya, wah gue setuju sekali. gue bukan hater bukan follower, cuma terpapar karena let's be real, gue pake itu snapchat dan instagram buatan amerika muahahahahhaha. kebetulan yang populer itu nggak pas sama selera ane makan postingan ini pun dibuat. lagian lau bam tahun 2016 udah memasuki bulan ber ber postingan dikit bangats ckckck. akan saya redeem. saya akan rajin posting.

intinya ane bersyukur bisa hidup di dunia yang dinamis dan sangat menarik ini. nothing is impossible. if a plan doesn't work then change the plan, but never the goals. aut viam inveniam aut faciam. i will either find a way, or make one. prinsip hidup gue adalah life is school and you will never stop learning from it. beyonce dan budaya pop amerika adalah salah satunya. ceileh plis bam sok bet cihuy.

semoga postingan ini bikin lo mikir!





Sunday, September 4, 2016

movie that made you cry: BEGIN AGAIN


oke, pertama-tama.

fuck.

(lol, always.)

gue inget pernah mendengar adam levine nyanyi lagu ballad keren banget di radio, tapi gue nggak pernah merepotkan diri buat mencari di internet. samar-samar terus terpatri melodinya di kepala, tapi yaudah. begitu aja. kenapa? karena gue nggak suka maroon 5. apalagi adam levine. bah.

kejadiannya beberapa waktu yang lalu, cukup lama.

di channel FX tv kabel, gue sering juga liat film BEGIN AGAIN (CAPS LOCK IS NECESSARY FUCK THIS MOVIE) ditayangkan berulang-ulang tapi gue juga nggak pernah merepotkan diri buat duduk depan tv dan nonton. kenapa? karena ada keira knightley dan ya, lo benar, gue juga nggak demen karo doi buahahahahahahha.

anyway.

mungkin emang udah ditakdirkan buat nonton kalem selama dua jam kurang pagi ini. filmnya baru selesai kira-kira lima belas menit yang lalu dan gue masih... masih terbayang-bayang akan... ah, gue payah kalo harus menggambarkan dengan bahasa indonesia, but it goes like this; that movie made me brave. to hope. to never give up. to, probably sometime soon, love someone (damn geli bangats nulisnya), and yeah, sure, that movie made me cry. me. bambang. bamby. your precious komandan tete. nangis. gara-gara film ber-genre musical comedy/drama/romance sesuai kata google.

gils.

ternyata lagu yang luar biasa keren dengan lirik super cihuy itu judulnya lost stars, silakan nikmati dua versi. satu dari adam levine beserta cuplikan filmnya, dan satu lagi dari keira knightley juga dengan cuplikan filmnya.



kembali ke filmnya itu sendiri.

film ringan. tentunya agak mudah ketebak jalan ceritanya. agak. endingnya cocok dengan selera ane yang sebisa mungkin menghindari jalinan kasih buahahahahah, meski harus jujur gue suka dengan cerita yang berbumbu perbedaan usia di antara pria dan wanitanya, dengan catatan prianya yang lebih tua if you know what i mean bye.

kalo lo ngikutin blog gue, biasanya gue jarang memberi sinopsis muahahahahah you have google for that, tapi untuk film ini gue pikir sinopsis yang bisa lo temukan di google (dan di tv kabelnya) itu nggak berperan banyak untuk menarik gue duduk kalem dan nonton. no. berkali-kali gue melewatkan BEGIN AGAIN di tv karena sinopsisnya yang bleh banget. biasa banget. padahal filmnya jauh dari kata biasa. dan ini gue yang ngemeng tentang sebuah film drama romance musical comedy, gue. bambang. yang demen serial detektif dan novelnya stephen king. ditambah nangis pula. imagine!!?!

lol.



beberapa aspek yang bikin BEGIN AGAIN keren buat ane di antaranya penampilan mbak keira yang effortless. mungkin akting yang cihuy emang begitu, ya? aktris/aktornya tidak terkesan memaksakan menjadi karakter fiksional yang diperankannya. gue pikir mbak keira bener-bener nyantai dan menyatu dengan gretta; emosinya dapet, ekspresinya ya kayak lo lagi liat temen lo nangis, ketawa, kaget, merasa bersalah, gitu. kayak lagi ngeliat temen, natural, atau bahkan bisa ikut merasakan. cailah. merasakan. geli bet.

plus, fashion style-nya mbak keira di film. goooooddddddddddddddamn inspirasi banget muhahahahahahahha.

yang kedua, karakter-karakter pembantunya bagus semua. semua dapet porsi yang pas. background story yang bisa diterima akal juga. gue pikir nggak ada tokoh antagonis disini, adam levine, yes, maybe, tapi what he did was reasonable and mbak keira handled the problem awesomely too. so!!!!!

ketiga, karena ini film tentang musik, lagu-lagunya parah coyyyyyyyyyyyyyyyyyy. nggak menye. meski tentang cinta dan pengharapan etc etc. seriusan sepanjang film lagu-lagu yang ada keren semua. tanpa malu gue harus mengaku kalo banyak lagunya bikin mewek (kayaknya karena dibantu penampilan super cihuy semua aktor dan aktrisnya, suwer).

damn.

yang terakhir, satu adegan mbak keira dan adam levine ngobrol di bangku taman yang seriusan bikin lo geleng-geleng kepala. adam levine kurang lebihnya memohon mbak keira untuk diberikan kesempatan kedua memperbaiki hubungan mereka sampai ngebawa-bawa samudera alias the usual case of pleading without clear thinking from men lol, dan mbak keira bertanya balik, entah memastikan ketulusan adam levine atau cuma ngetes (namanya juga cewek ye kan);

"are you willing to throw everything to the ocean?"

dan adam levine berhenti sebentar. tertegun. separuh wajahnya yang tertutup janggut hitam liar menyembunyikan kebingungannya (klasik bro, klasik).

"is that, is that what you want me to do?"

TERUS MBAK KEIRA SENYUM. NGGAK KECUT BANGET. TAPI KELIATAN. YA AMPUN. STRESS NONTONNYA. KEREN BET.

"are you realy going to stay?" setelah beberapa kalimat yang gue nggak inget apaan bahahhahah, mbak keira kembali bertanya.

adam levine dengan cepat menjawab, naif tapi yakin banget dengan jawabannya dan kepalang desperate, "yes. yes, i'm going to stay seated on this bench."

JENG JENG.

itu coy. adegan itu. the subtle meaning behind mbak keira's pamungkas question dan senyum kecut yang seolah teriak 'ah owe udah ngira lu bakal ngemeng gituh huft'. GILS. GILSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS. BYEEEEEEEEEEEEEEEE.

sebagai penutup, ane cuma bisa bilang please cari filmnya dan tonton. mungkin ente lagi butuh motivasi atau merasa perlu to justify a sweet revenge atau ente ada banyak waktu luang dan udah lama nggak nangis lol.



And God, tell us the reason youth is wasted on the young
It's hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars trying to light up the dark?

Who are we?
Just a speck of dust within the galaxy?
Woe is me
If we're not careful turns into reality





mulai membanding-bandingkan

seiring bertambahnya umur,  gue lebih memilih untuk punya rutinitas. kenapa gue gak suka kerja retail clothing waktu masih di UK? karena shi...