Sunday, September 7, 2014

tentang labeling dan produk massal keluaran pabrik

bakal rada serius nih bahahahha. semoga bisa jadi bahan bacaan yang cihuy.

gue inget seorang temen feminin tapi berperangai keras dan super-kocak pernah bilang kalo dia lebih memilih buat sendiri dulu daripada di kemudian hari dikenal orang HANYA sebagai, “oh, si x? yang blablabla itu? iya tau. mantannya y kan? mending kalo mantannya satu atau dua orang, bam. kalo banyak?”—dan gue sejak saat itu emang mikir, hm, ada benernya juga ya, tapi cuman sebatas itu aja opini gue tentang pernyataan tersebut.

satu minggu yang lalu, gue membuktikan sendiri bagaimana pernyataan tersebut ternyata lumayan bikin geleng-geleng—bagaimana gue lantas mengangkat topik ‘labeling’ kali ini.

so.

satu minggu yang lalu, gue yakin ngeliat senior angkatan di suatu tempat, tapi gue nggak inget namanya siapa. kemudian gue ketemu temen-temen angkatan gue, dan kita sepakat kalo cowok itu emang senior angkatan kita. walhasil, ada yang mengklarifikasi dengan penuh kepastian, “iya mas itu. mantannya anu.”

nah loh.

selang beberapa hari, gue nonton TV. tepatnya, channel V. artist of the month-nya waktu itu si rita ora yang lagi promo single terbarunya ‘i will never let you down’. kocaknya nih, narator channel V pun ngasih embel-embel, “single yang diproduseri oleh mantan kekasihnya yaitu calvin harris blablabala...”

mulai ngeh kan lo sama juntrungan topik ‘labeling’ ini?

kalo gue mikirnya, nggak cihuy amat kayaknya yeee diinget sama orang-orang dengan label “mantannya x/y/z”? nggak berprestasi amat gitu, meskipun faktanya, yah, lu olang emang mantannya si x/y/z. gue mikirnya kayak ada sesuatu yang menyalahi diri lo sebagai seorang manusia, ketika lo diidentifikasi sesuai siapa mantan lo. bukan HAM lo sih yang dilanggar, bahahahahaha, harga diri lo, mungkin? apalagi kalo ada ‘masalah’ sama mantan tersebut. berabe kayaknya tuh.

tapi yeee nggak cuma dari ‘mantan’ aja sih. misal bapak lo pejabat atau direktur kebun jagung, ya kan? yang macam itu justru kayak beban gitu kali, ya? apa gimana? ah bam lo gak ada kerjaan aje kali nih. iya kali ye. yaudah. sub-judul kedua.

nih lagunya mbak rita ora.
→ →
→ →




yang gue maksud ‘produk massal keluaran pabrik’ disini yaitu, ketika beberapa jam yang lalu gue ke PIM 1-2 dan di setiap sudut mall tersebut berceceran cewe-cewe segala usia berpakaian serupa: atasan kaos ketat plus rok hitam agak mengembang di atas lutut dan entah sneakers/flats/sepatu apa itu gatau namanya. sayang banget gue nggak ngambil foto-foto bukti sama sekali. padahal menarik banget topik ini kalo menurut kacamata owe.

seperti kata anak G4uL masa kini, “literally di setiap sudut, bray.”

oleh karenanya, gue pikir nggak ada salahnya kalo gue menjuluki mereka cewe-cewe cantik dan manis itu sebagai ‘produk massal keluaran pabrik’, atau gampangnya ‘pabrikan’ (dengan konotasi yang tidak positif-tidak negatif, karena bamby tahu benar indonesia adalah negara demokrasi dan semua orang bebas untuk berekspresi, layaknya bamby yang menulis entri ini).

satu hal yang i just can’t help but wonder twenty nine my age yah, apakah fenomena ‘pabrikan’ yang bamby lihat dalam bidang fashion ini yang dinamakan ‘trend’? kalo memang begitu adanya, loh, ‘trend’ itu nggak cihuy dong? ‘trend’ itu nggak mampu memaksimalkan style individual cewe-cewe cantik dan manis itu dong, karena mereka lebih memilih untuk tampil serupa a la produk massal keluaran pabrik begitu?

loh.

loh bam lo kemana aja bam?

mungkin gue kelamaan di jogja.

mungkin setelah nonton film lucy kinerja otak gue lumayan dipake gitu kira-kira 29%.

atau mungkin bamby cuma iseng nggak ada kerjaan aja.

seandainya lo (siapapun yang baca entri ini) tadi ke PIM 1-2 bareng gue, pasti bisa menyaksikan sendiri fenomena ‘pabrikan’ tersebut. luangkan deh waktu lo minggu depan saat weekend buat jalan-jalan ke mall yang cihuy, dan temukan cewe-cewe cantik dan manis memakai atasan kaos ketat plus rok hitam agak mengembang di atas lutut dan entah sneakers/flats/sepatu apa itu gatau namanya.

gimana ye.

apakah ‘trend’ itu diciptakan untuk ditiru mentah-mentah? lalu seseorang yang ‘ngetrend’ itu, dia sadar nggak kalo dia terlihat mirip dengan ratusan orang ‘ngetrend’ lainnya? kalo sadar, terus kenapa diikutin ‘trend’-nya? kenapa kalo sadar, lantas membiarkan dirinya terlihat bagaikan produk massal keluaran pabrik?

ah sok bangats lau bam, mentang-mentang bukan cewe.

bukan, bukan gitu sodara-sodara. gue murni bertanya. sebutkan kelebihan yang anda miliki, kata lembar biodata untuk melamar ke perusahaan-perusahaan, dan karena dalam bahasa indonesia kata 'jujur' maknanya amat sangat luas, "gue kalo nanya ya nanya, kalo menghina ya menghina, kalo gue bilang gue nggak bisa ya gue nggak bisa bukannya sok-sokan merendah biar disanjung, dan kalo gue memuji ya memuji nggak ada 'maunya' di balik pujian gue buat lo."

jadi yaudah. gue cuman nanya gitu lho, dengan nada terdatar yang pernah ada. no sarcasm at all this time. lu siapa bam mempertanyakan 'trend' yang beredar di masyarakat? masyarakatnya kan happy sama 'trend' itu.

nah itu dia.



sekian.
selamat malam!



No comments:

Post a Comment

I (F/30) am my father's son

when he actually has two.                         My 9 years junior dislikes his middle name, cutely given after a French legend because our...